Laporan tersebut menunjukkan bahwa periode 2015-2025 merupakan periode terpanas dalam sejarah pengamatan. Tahun 2025 sendiri tercatat berada pada peringkat kedua atau ketiga, dengan suhu rata-rata global sekitar 1,43 derajat Celcius lebih tinggi daripada tingkat pra-industri 1850-1900. Fenomena cuaca ekstrem, mulai dari panas ekstrem dan hujan lebat hingga badai tropis, terjadi secara beruntun, menyebabkan kerusakan serius dan mengungkap kerentanan perekonomian dan masyarakat.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres memperingatkan bahwa iklim global berada dalam status darurat. Ia juga menganggap bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil tidak hanya memperparah kerusakan lingkungan tetapi juga mengancam keamanan global.








