Mengajar tuna aksara di dataran tinggi sudah sulit, tetapi mengajar di kelas tuna aksara untuk orang tua dengan penerimaan yang terbatas, jauh lebih sulit. Guru dipilih dengan cermat, dengan prioritas diberikan kepada masyarakat setempat. Secara khusus, untuk memberantas buta huruf di masyarakat, para pejabat dan guru telah memiliki cara yang baik untuk melakukan "3 bersama" (makan bersama, tinggal bersama, bekerja bersama) dengan siswa. Salah seorang guru, Nong Thi Lan, mengatakan:
kelas penghapusan buta huruf dibuka dari Senin sampai Jumat malam dan berakhir setelah 9 bulan belajar. Foto: VOV |
Berbeda dengan kelas pemberantasan buta huruf yang lazim, peserta di kelas ini beragam usianya, bahkan ada yang sudah cukup berumur untuk menjadi kakek-nenek, namun baru pertama kali bisa menulis. Para siswa di kelas sebagian besar adalah suku minoritas Dao dan San Chi, berusia 28 hingga 60 tahun dan sebagian besar adalah pekerja utama dalam keluarga, sehingga mereka selalu sibuk dengan anak-anak, pekerjaan rumah, bertani, dan berbagai kegiatan lainnya. Awalnya mereka masih takut dan merasa rendah diri, sehingga kelas hanya dihadiri sekitar sepuluh orang. Lambat laun, satu orang mengajak yang lain, kemudian mereka pun menjadi sangat bersemangat, dan kelas semakin ramai. Meski goresan pena mereka masih canggung dan kikuk, namun mereka sangat antusias belajar, dan berharap segera bisa membaca dan menulis. Setelah 9 bulan siswa akan diberikan sertifikat pemberantasan buta huruf sebagai tanda lulus tes yang diselenggarakan. Duong A Chiu dan istrinya Tran Thi Chau berasal dari suku minoritas San Chi, mempunyai 3 anak, dan saat ini tengah sibuk di musim panen palawija, namun masih mencoba untuk pergi ke kelas.
- Saya tidak mengenal aksara, jadi saya hanya bisa menghitung beberapa ribu atau beberapa ratus, bukan jutaan. Jika Anda tidak bisa membaca, Anda tidak bisa membutuhkan tandan tangan maka hanya memakai cap jari tangan saja.
- Pasangan suami istri saling mengajak untuk pergi ke sekolah. Anak-anak sudah melek huruf maka kami harus pergi pergi ke sekolah. Ketika saya mengenali aksara, saya akan bisa membaca rute-rute bus ke Binh Lieu, Mong Cai atau Tien Yen... Sulit tapi saya sangat senang, saya harus bertekad untuk belajar.
Menghapus buta huruf untuk orang suku etnis minoritas dianggap sebagai tugas penting dan berjangka panjang. Foto: VOV |
Kabupaten Binh Lieu saat ini termasuk dalam kelompok dengan persentase etnis minoritas tertinggi antara usia 15 dan 60 tahun dengan tuna aksara di Provinsi Quang Ninh. Penyelenggaraan pendidikan dan pemberantasan buta huruf bagi orang dewasa selama beberapa waktu terakhir dan upaya pemberantasan buta huruf bagi masyarakat telah mendapat perhatian khusus dari pemerintahan Kabupaten Binh Lieu. Sejak 2014 hingga sekarang, Kabupaten Binh Lieu di perbatasan Quang Ninh telah melaksanakan 96 kelas pemberantasan buta huruf dan memberikan sertifikat kepada 1.625 siswa dan 410 siswa di antaranya telah menyelesaikan program tingkat 2 (setara dengan kelas 4, 5). Hoang Ngoc Ngo, Wakil Ketua Komite Rakyat Kabupaten Binh Lieu, mengatakan:








