Keluarga Ibu Wilis di Kedutaan Besar Indonesia di Kota Hanoi |
“Tanggal 2 September adalah hari kemerdekaan Vietnam Utara, kelihatannya sepi-sepi saja, hanya ada resepsi di Istana Ketua Ho Chi Minh tetapi acara kesenian katanya batal. Radio rakyat menyiarkan lagu-lagu pujaan yang sedih dan sajak-sajak, kedengarannya sajak berkabung sambil menyebut-nyebut setengah meratap ‘Ketua Ho’. Ternyata kemarin beliau sedang sakit keras dan tanggal 3 September 1969 Beliau wafat”
Delegasi-delegasi dari berbagai negara sahabat Vietnam Utara berdatangan untuk menyatakan turut berduka cita dan menghadiri upacara pemakaman. Jenazah Ho Chi Minh dibalsem terletak di dalam sebuah peti kaca disemayamkan di Gedung Ba Dinh Square, gedung yang biasanya dipakai untuk pertemuan-pertemuan partai, pidato-pidato. Lapangan di mukanya bernama Ba Dinh Square, yang biasanya untuk parade, penuh oleh rakyat yang berbaju putih dengan tanda berkabung di dada mereka. Meratap pelan atau menangis terisak-isak. Ho Chi Minh memang seorang paman yang sangat dicintai oleh rakyatnya."
Upacara pemakaman Presiden Ho Chi Minh |
Pertama kali ia menghadiri pemakaman seorang pemimpin asing dan juga pertama kalinya baginya menyaksikan bagaimana perasaan mendalam rakyat Vietnam kepada pemimpin nasional. Barisan panjang orang berdiri di kedua sisi jalan untuk mengucapkan selamat jalan kepada Paman Ho untuk terakhir kalinya. Di semua persimpangan jalan, radio menyiarkan melodi sedih dan ungkapan yang masih ia ingat dengan jelas seperti "Hidup Presiden Ho", "Hidup Paman Ho".
Di rumah-rumah, semua kegiatan terhenti, rakyat memantau upacara pemakaman Paman Ho yang disiarkan langsung Radio Suara Vietnam. Serangkaian tembakan meriam itu terdengar seperti membawa Beliau ke langit dan terbang ke Selatan untuk mengunjungi rakyat di Vietnam Selatan. Radio Suara Vietnam menyiarkan pesan Paman Ho sebelum meninggal, untuk terus berjuang "bebaskan Vietnam Selatan, lindungi Vietnam Utara, dan satukan tanah air ".
“Kami tanpa kami sadari itu sebenarnya merupakan jembatan dari hubungan dua negara karena kehadiran atau adanya orang tua saya di Vietnam untuk mewakili negara Republik Indonesia, dan itu juga menjelaskan detail bagaimana acara-acara di Kedutaan, antara wakil negara dengan wakil dari negara-negara sahabat dan sebagainya. Dari situ dituangkan jadi buku menjadi cerita-cerita yang luar biasa, dengan pengalamannya langsung, menghadapi serangan udara Amerika, dan juga – yang paling tidak kalah menarik – ingatan beliau yang dituangkan secara detil mengenai proses pemakaman Presiden Ho Chi Minh”.
Ibu Wilis menunjukkan kepada wartawan VOV foto-foto waktunya di Vietnam |
Wanita Indonesia ini, di usianya yang lanjut meskipun gerakan kakinya mulai lambat, matanya tidak lagi tajam, namun ingatannya tentang satu bangsa Vietnam yang gigih merebut kemerdekaan di bawah kepemimpinan yang cerdik seorang tokoh terkenal di dunia, Presiden Ho Chi Minh, masih sekuat hari ini yang selalu menjadi "Kenangan Abadi".
|
Ibu Wilis main piano lagu Vietnam "Dem qua em mo gap Bac Ho" (Kemarin malam saya mimpi bertemu dengan Paman Ho)
|








