Prospek Memulihkan Kesepakatan Nuklir ketika Iran Memiliki Presiden Baru
29/06/2021 10:38
(VOVWORLD) - Pemilihan presiden (pilpres) Iran diadakan pada 18 Juni di tengah proses perundingan untuk menghidupkan kembali JCPOA antara Iran dengan Kelompok P5 plus 1 (meliputi Amerika Serikat (AS), Rusia, Inggris, Perancis, Tiongkok dan Jerman) yang telah mengalami beberapa putaran perundingan di Wina (Austria) dengan kemajuan-kemajuan tertentu, tetapi tetap belum mencapai target yang diajukan. Oleh karena itu, pertanyaan bahwa terpilihnya Ebrahim Raisi, seorang pemimpin yang mengikuti garis politik keras menjadi Presiden Iran menimbulkan dampak bagaimana terhadap proses perundingan yang sedang mendapat perhatian besar dari opini umum internasional.

Presiden Iran, Ebrahim Raisi (Foto: Arash Khamooshi/The New Yorks Times) Dalam satu pernyataan resmi setelah ditetapkan dipilih menjadi Presiden Iran, Ebrahim Raisi berkomitmen akan mengikuti jalan perundingan untuk memulihkan kesepakatan nuklir. Ini dianggap sebagai satu indikasi positif terhadap proses perundingan meskimpun jalan menuju ke kompromi terakhir etap dinilai sangat panjang dan penuh dengan onak dan duri.
Related








