Presiden Ho Chi Minh menghadiri pembukaan gerakan Pendidikan Populer pada tahun 1945 (Foto: buku) |
Sehari setelah berdirinya negara Republik Demokratik Vietnam (2 September 1945), Pemerintahan Sementara mengadakan pertemuan pertamanya pada tanggal 3 September 1945. Mengingat lebih dari 90% penduduknya saat itu buta huruf, Presiden Ho Chi Minh menetapkan pemberantasan buta huruf sebagai salah satu tugas mendesak negara.
Pendidikan populer untuk memberantas buta huruf
Gerakan "Pendidikan Populer" lahir sebagai aksi yang mendesak dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Menurut dokumen, hanya dalam satu tahun, 75.000 kelas telah diselenggarakan, dengan partisipasi dari 95.000 guru dan lebih dari 2,5 juta orang yang mampu membaca dan menulis. Ini merupakan prestasi langka dalam sosialisasi pembelajaran, yang mencerminkan patriotisme, solidaritas, dan kehausan akan pengetahuan seluruh bangsa. Pada akhir tahun 1965, buta huruf pada dasarnya telah diberantas di provinsi-provinsi pegunungan Vietnam Uuara.
Gerakan "Pendidikan Populer" tidak hanya memberantas buta huruf tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat, membangkitkan kebanggaan nasional, dan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan Partai. Ini merupakan langkah awal yang kokoh bagi perjuangan pendidikan revolusioner, yang meletakkan fondasi bagi perjalanan pembangunan selama 80 tahun selanjutnya. Bapak Nguyen Van Doan, Direktur Museum Sejarah Nasional, tempat diselenggarakannya pameran "Pendidikan Populer - Menerangi Masa Depan", menegaskan:
“Gerakan ini bukan sekadar kampanye untuk belajar membaca dan menulis, melainkan disebut kebangkitan warga negara, semangat untuk bangkit, dan semangat solidaritas nasional. Semangat belajar menjadi manusia, belajar untuk mengabdi kepada Tanah Air, sekaligus merupakan penegasan nilai pengetahuan pendidikan yang akan selalu bernilai, terutama dalam usaha pembangunan tanah air saat ini.”
Pameran "Pendidikan Populer menerangi masa depan (Foto: museum sejarah nasional) |
Membangun pendidikan terintegrasi
Dari ruang - ruang kelas sederhana di era perang perlawanan, pendidikan Vietnam telah menempuh perjalanan panjang memasuki era modern, btrintegrasi secara mendalam dengan dunia. Dalam konteks Revolusi Industri 4.0 dan perubahan masyarakat yang pesat, sektor pendidikan telah menegaskan peranan kuncinya dalam pembangunan manusia, meningkatkan pengetahuan masyarakat, dan mengembangkan kebakatan.. Menurut Menteri Pendidikan dan Pelatihan, Nguyen Kim Son, pendidikan dan pelatihan mendapatkan banyak perhatian dan harapan dari Partai dan Negara. Khususnya, yang terpenting adalah berlakunya Resolusi 71-NQ/TW Politbiro tentang terobosan dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan. Hal ini merupakan landasan politik yang penting untuk lebih mendorong inovasi pendidikan dan pelatihan yang fundamental dan komprehensif.
Bersamaan dengan itu, program sasaran nasional tentang pengembangan pendidikan dan pelatihan sedang dibangun; empat undang-undang penting di bidang pendidikan (Undang-Undang Guru, Undang-Undang Pendidikan, Undang-Undang Pendidikan Tinggi, dan Undang-Undang Pendidikan Vokasi yang telah diamandemen) telah dan diharapkan akan diterbitkan tahun ini, menciptakan fondasi yang kokoh bagi pengoperasian sistem pendidikan yang modern, sinkron, dan efektif. Transformasi digital, penerapan kecerdasan buatan, dan pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni, dan Matematika) juga membuka peluang bagi pendidikan untuk memasuki periode peningkatan kualitas dan inovasi yang komprehensif. Tahun ini juga merupakan tahun pertama penerapan pendidikan gratis digelar untuk anak-anak prasekolah dan pelajar sekolah dasar di seluruh negeri.
Simbol dalam pameran (Foto: nhandan.vn) |
Dalam surat penyemangat kepada instansi pendidikan pada pembukaan Tahun Ajar baru 2025-2026, Presiden Luong Cuong meyakini bahwa para pelajar dan mahasiswa memiliki aspirasi besar untuk membangun negara yang sejahtera; sektor pendidikan terus berupaya mencapai tujuan membentuk dan mengembangkan manusia secara komprehensif dalam hal pengetahuan, etika, keterampilan, keberanian, dan aspirasi, memenuhi tuntutan pembangunan negara yang pesat dan berkelanjutan di era kebangkitan.








