(VOVworld) - Provinsi Kon Tum mempunyai 588 dukuh pemukiman rakyat etnis minoritas, kehidupan mereka masih menjumpai banyak kesulitan. Selama tahun-tahun belakangan ini, dari sumbangan dana dan tenaga dari penduduk, 505 Rumah Rong (semacam rumah di Sumatra) telah dipulihkan, dibangun baru dan menjadi tempat aktivitas kebudayaan komunitas warga dukuh. Dari sukses yang dicapai dalam masalah memulihkan kembali Rumah Rong tradisional, masalah memobilisasi sumber daya rakyat untuk melaksanakan program pembangunan pedesaan baru sedang terbuka bagi provinsi Kon Tum.
Akan tetapi, karena banyak alasan, maka dari tahun 1990 sampai tahun 2000, banyak dukuh di provinsi Kon Tum kehilangan Rumah Rong. Untuk melaksanakan kebijakan membangun pedesaan baru sesuai dengan Resolusi Sidang Pleno Komite Sentral Partai Komunis Vietnam, provinsi Kon Tum telah memperhatikan masalah memulihkan Rumah Rong untuk menjadi tempat aktivitas, mengkonservasikan kebudayaan komunitas semua etnis di sini. Bapak A Huya di dukuh Plei Don, kota Kon Tum memberitahukan bahwa untuk bisa membangun sebuah Rumah Rong yang tingginya dari 12 meter sampai 18 meter, lapangan yang digunakan seluas kira-kira 60 meter persegi harus memerlukan puluhan meter kubik kayu dan membutuhkan ribuan hari kerja. Dia memberitahukan: “Masalah material pembangunan sangat sulit. Sekarang ini, pohon kayu sangat langka. Harus menempuh jarak beberapa puluh kilometer baru bisa datang ke hutan. Rakyat harus tidur di hutan selama lima sampai enam malam baru bisa memotong cukup pohon kayu”.
Dengan banyak alasan seperti misalnya kesedaran, dan kehidupan rakyat masih menjumpai banyak kesulitan, maka partisipasi rakyat masih sangat terbatas. Tran Vinh, Wakil Kepala Kantor Dinas Informasi dan Komunikasi provinsi Kon Tum, orang yang telah berkaitan dan meneliti tradisi kebudayaan semua etnis minoritas di provinsi ini selama puluhan tahun menyatakan bahwa sebab yang membuat rakyat belum dengan inisiatif dan aktif ikut serta karena mereka belum berhasil melihat faktor identitas kebudayaan dalam setiap isi pekerjaan dan setiap proyek yang kongkrit. Dia memberitahukan: “Harus menyelipkan faktor identitas, baru bisa berhasil menyerap partisipasi dan sokongan rakyat. Jadi, kalau hanya ada nilai tentang jaring pengaman sosial, maka sokongan rakyat bisa belum tinggi karena kesedaran mereka belum mendalam. Dari pola Rumah Rong, harus memerlukan satu pemikiran untuk meneliti proyek-proyek kesejahteraan lainnya”.








