Setiap hari, dari pukul 01.00 sampai pukul 02.00 pagi, sawah sayur-mayur desa Thuy Linh sudah ramai dengan suara tawa dan suara bicara. Ibu Vu Thi Hien, 51 tahun mengatakan bahwa, menanam sayur-mayur juga pekerjaan yang susah payah. Kalau ingin menghasilkan sayuran yang paling enak kepada para konsumen, harus bangun dari tengah malam untuk mengambil sayuran agar pada pagi harinya bisa sempat membawanya ke pasar. Kalau sayur diambil dari sore hari sebelumnya maka sayuran akan layu dan kurang enak dimakan.
Dia memberitahukan bahwa“Dari pukul 01.00 sampai pukul 02.00 di setiap sawah selalu ada lampu terang. Seluruh warga desa datang untuk mengambil sayur-mayur pada malam hari. Kadang-kadang kalau cuaca buruk maka pekerjaan ini menjadi lebih susah. Sedangkan pada sorenya air bersih sudah dipompa ke setiap sawah untuk menyirami sayur-mayur. Sekarang bersawah sudah jauh lebih senang dari pada dahulu.
Sayur-mayur yang dihasilkan di desa Thuy Linh semakin menegaskan kualitasnya maka cara menghasilkan sayur-mayur dengan pola rumah berjala juga diperluas. Dari seluas 6.000 meter persegi, pada tahun 2000 areal penanaman sayur-mayur telah menjadi 20 hektar di antara total kira-kira 100 hektar areal lahan pertanian, memberikan hasil pendapatan sebanyak 320 juta VND per hektar setiap tahun.
![]()
Di desa Thuy Linh, rakyat terutama menanam sayur-mayur seperti: sawi, kubis, kol… khususnya brokoli hanya ditanam pada musim dingin, berdekatan waktu dengan Hari Raya Tahun Baru imlek. Pada waktu ini, warga desa ini sedang memaneni sayur-mayur guna menyiapkan tanah untuk musim sayur-mayur yang melayani kebutuhan pasar pada Hari Raya Tahun Baru imlek. Saudari Le Thi Ngot memberitahukan: “Jenis sayur-mayur di sini lengkap, semuanya ada akan tetapi yang paling sesuai adalah berbagai jenis sawi dan kubis. Kalau sawi ditanam pada musim dingin hanya membutuhkan waktu 1 bulan sudah bisa dipaneni.
Penanaman sayur-mayur sudah terkait dengan warga seperti darah daging. Kehidupan begitu bergelora dan siklus pasar berputar cepat akan tetapi kehidupan warga desa ini tetap mengalir secara lugas dan tenteram. Seperti ibu Hien, saudari Ngot, walaupun sudah tidak muda lagi akan tetapi mereka menyedari bahwa kalau menginginkan desanya berkembang, maka harus dengan berani menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan, terutama teknologi biologi, serta menambah banyak bibit tanaman baru yang berproduktivitas tinggi untuk menganekaragamkan produknya.
Lan Anh








