logo

Dialog Shangri-La Bahas Keamanan Asia-Pasifik

2025/5/30 | 10:12:36
(VOVWORLD) - Diselenggarakan dari tanggal 30 Mei hingga 1 Juni, di Singapura, Dialog Shangri-La tahun ini berlangsung pada latar belakang meningkatnya instabilitas geopolitik serta unsur-unsur keamanan tradisional dan non-tradisional, sehingga menciptakan tekanan terhadap lingkungan keamanan Asia-Pasifik.

Sebagai salah satu forum dialog keamanan-pertahanan tahunan papan atas di Asia selama bertahun-tahun ini, Dialog Shangri-La tahun ini menyerap kehadiran sekitar 600 utusan, sarjana internasional, kalangan otoritas,  di antaranya ada Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Perdana Menteri Malaysia Ibrahim Anwar, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth.

Polisi berjaga di dekat pintu masuk Hotel Shangri-La (Singapura), tempat berlangsungnya Dialog Shangri-La, pada 30 Mei 2025. (Foto: REUTERS/Edgar Su)

Meningkatnya Instabilitas Geopolitik

Berlangsung pada latar belakang kebijakan tarif yang dikenakan Pemerintah Presiden AS, Donald Trump berdampak kuat terhadap ketertiban perdagangan global, di antaranya ada banyak perekonomian Asia-Pasifik yang terpengaruh negatif, bersamaan itu kawasan Asia Selatan baru saja menyaksikan konflik yang paling serius selama beberapa dekade ini antara dua negara adidaya nuklir yaitu India dan Pakistan, Dialog Shangri-La tahun ini menetapkan banyak pertanyaan untuk negara-negara tentang bagaimana mengejar target-target strategis untuk menyeimbangkan kepentingan.

Menurut Institut Penelitian Strategi Internasional (IISS), Penyelenggara Dialog Shangri-La, Dialog tahun ini memiliki jadwal kerja yang paling padat dengan 7 sesi dialog utama beserta banyak aktivitas di sela-sela. Masalah-masalah diskusi juga diperluas, bukan hanya tantangan-tantangan keamanan tradisional seperti konflik saja, tetapi juga menyinggung risiko-risiko di ruang siber, luar angkasa, dan lautan, kelancaran rantai pasokan global, menjamin ketahanan pangan, keamanan sumber air dalam menghadapi dampak perubahan iklim, imigrasi, dan sebagainya. Bagi kawasan Asia Tenggara, masalah-masalah keamanan nontradisional yang baru muncul seperti: kriminalitas penipuan lintas negara dan penangkapan ikan ilegal juga dibahas. Bastian Giegerich, Direktur Eksekutif IISS, berbagi pendapat:

Dialog Shangri-La kali ini diselenggarakan pada saat meningkatnya instabilitas geopolotik, hubungan sekutu, hubungan kemitraan sedang menghadapi banyak tekanan. Oleh karena itu, Dialog merupakan kesempatan bagi pemerintah negara-negara untuk menjelaskan kebijakan, membahas pilihan-pilihan kebijakan dan mengusahakan solusi-solusi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang sedang meningkat”.

Satu hal yang patut diperhatikan dalam agenda Dialog Shangri-La tahun ini ialah penyelenggaraan sesi pembahasan, penilaian dampak-dampak kebijakan AS terhadap dunia  selama masa bakti ke-2 Presiden Donald Trump. Menurut Evan Lasman, peneliti IISS, ini merupakan topik yang mendapat perhatian khusus dari negara-negara Asia Tenggara, pada latar belakang ASEAN sedang berupaya mendorong sentralitas ASEAN, mengusahakan keseimbangan strategis dalam hubungan blok dengan negara-negara adi kuasa, bersamaan itu mempertimbangkan usaha memperkuat kerja sama dengan beberapa mekanisme multilateral yang baru.

Peranan hubungan AS-Tiongkok

Juga seperti Dialog-dialog selama tahun-tahun terakhir, hubungan AS-Tiongkok dan dampak-dampaknya terhadap kawasan juga merupakan salah satu topik besar pada Dialog Shangri-La tahun ini. Menteri Pertahanan Tiongkok, Dong Jun tidak menghadiri Shangri-La tahun ini membuat pertemuan pertama antara dua Menteri Pertahanan AS-Tiongkok sejak Donald Trump kembali berkuasa tidak berjalan seperti diharapkan. Namun, kehadiran pertama Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth di Shangri-La mencerminkan bahwa pemerintahan baru di AS tetap menganggap Asia-Pasifik sebagai prioritas strategis papan atas pada waktu mendatang. Masalahnya ialah bagaimana pemerintah baru di AS akan mengambil perubahan kebijakan dan cara pendekatan dibandingkan dengan pemerintah pimpinan mantan Presiden AS, Joe Biden.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, bertemu dengan Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan Thailand, Phumtham Wechayachai, di sela-sela KTT Keamanan Asia (Dialog Shangri-La) di Singapura, pada 30 Mei 2025. (Foto: REUTERS/Edgar Su)

Kalangan pengamat beranggapan bahwa setelah gerak-gerik yang mengejutkan di forum-forum keamanan di Eropa pada tahun ini seperti Konferensi Keamanan Munich (MSC|), di mana para pejabat tingkat tinggi AS (Wakil Presiden J.D Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth) menyatakan untuk secara bertahap mengurangi komitmen-komitmen keamanan AS terhadap Eropa untuk berpindah ke kawasan-kawasan lain, Dialog Shangri-La tahun ini bisa memperjelas prioritas-prioritas keamanan-pertahanan strategis yang baru dari AS terhadap kawasan pada waktu mendatang. Hal ini pasti akan berdampak secara multidimensi terhadap situasi keamanan Asia-Pasifik. Namun, pakar Douglas Bandow dari Institut Cato (AS), memperingatkan:

Tugas paling penting bagi kita sekarang ialah mempertahankan perdamaian. Kedua negara adi kuasa yaitu AS dan Tiongkok perlu mempertahankan perdamaian satu sama lain dan di kawasan Asia-Pasifik, melalui itu menjaga dialog, mendorong kerujukan dan memacu kerja sama”.

Ketika berbagi pandangan ini, kalangan pakar beranggapan bahwa pada Dialog Shangri-La tahun ini ada para pembicara penting lainnya seperti Presiden Prancis, Emmanuel Macron dan PM Malaysia, Ibrahim Anwar, para pemimpin pendukung cara pendekatan netral antara para pihak, menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan tetap memberikan prioritas tertinggi bagi dialog, kerja sama dan keseimbangan strategis.

TAG
VOV/VOVworld/Dialog Shangri-La/sentralitas ASEAN/rantai pasokan global

Yang lain