Berlangsung selama tiga hari, dari 15 hingga 17 Juni di Kananaskis, negara bagian Alberta, Kanada, konferensi tersebut berakhir tanpa Pernyataan bersama yang dikeluarkan negara-negara G7 dan para mitra. Sebagai gantinya, hanya ada beberapa komunike pers tentang bidang-bidang tertentu.
Presiden AS, Donald Trump kembali lebih awal dari KTT para pemimpin G7 di Kanada, di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, pada 17 Juni 2025. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque) |
Perbedaan antara AS dan negara-negara anggota
Serangan pendahuluan Israel terhadap Iran pada tanggal 13 Juni yang memicu konflik Israel-Iran menjelang pembukaan KTT G7 di Kanada, telah membayangi konferensi tersebut dan menyesatkan banyak prioritas diskusi yang telah ditetapkan oleh tuan rumah Kanada sebelumnya. Dampak terbesar dari krisis Timur Tengah terhadap KTT G7 adalah keputusan Presiden AS Donald Trump untuk meninggalkan konferensi hanya satu hari setelah tiba di Kanada, untuk kembali ke Washington dan membahas langkah-langkah penanganan konflik tersebut.
Selain itu, konflik Israel-Iran juga menunjukkan perbedaan besar antara AS dan negara-negara Eropa anggota G7. Presiden AS Donald Trump semakin keras untuk mengejar pendekatan keras terhadap isu nuklir Iran, sementara negara-negara Eropa lebih memprioritaskan solusi diplomatik dan dialog. Perbedaan ini terlihat ketika Donald Trump mengkritik Presiden Prancis, Emmanuel Macron, setelah Macron menginformasikan bahwa AS telah rekomendasikan gencatan senjata kepada Iran dan negara-negara Eropa bersedia melanjutkan perundingan dengan Iran dalam kerangka kesepakatan P5+1 yang ditandatangani dengan Iran pada tahun 2015.
Salah satu topik lain yang diharapkan oleh negara tuan rumah Kanada dan negara-negara Eropa anggota G7 (Jerman, Prancis, Inggris, Italia) adalah meyakinkan AS untuk meningkatkan sanksi terhadap Rusia karena konflik Rusia-Ukraina. Namun, upaya ini gagal setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik keputusan G7 yang mengeluarkan Rusia dari G8 pada tahun 2014, yang menurutnya ini merupakan kesalahan yang mengakibatkan hubungan yang menegangkan antara Rusia dan Barat saat ini. Donald Trump juga tidak bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang diundang ke KTT G7 yang sangat mengharapkan pertemuan pribadi dengan Donald Trump untuk mencari dukungan dari AS yang kini mulai menunjukkan tanda-tanda melemah. G7 juga tidak bisa mengeluarkan pernyataan bersama mengenai konflik Rusia-Ukraina karena adanya penolakan dari pihak AS. Kanada dan sekutu lainnya telah mengumumkan memberikan sanksi baru terhadap Rusia serta menyatakan untuk memberikan bantuan untuk Ukraina, namun AS menyatakan tidak akan mengikuti langkah tersebut. Menurut Presiden Donald Trump, ini tersebut bukanlah cara pendekatan dari AS:
“Saya sedang menunggu untuk melihat apakah akan tercapai kesepakatan (dengan Rusia) atau tidak. Dan jangan lupa bahwa sanksi-sanksi itu sangat mahal, membuat AS kehilangan banyak uang, hingga miliaran USD. Menjatuhkan sanksi bukanlah hal yang mudah, itu bukan tindakan sepihak”.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni (Foto: REUTERS/Amber Bracken) |
Keputusan Donald Trump untuk meninggalkan KTT G7 lebih awal dari yang diharapkan juga menyebabkan rencana-rencana sebelumnya dari banyak pemimpin Uni Eropa dan Jepang untuk berdialog secara mendalam dengan Donald Trump mengenai kebijakan tarif dan perdagangan AS menjadi gagal. Presiden AS hanya sempat bersama dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer untuk mengumumkan kesepakatan perdagangan AS-Inggris yang telah disepakati sebelumnya. Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan “ultimatum” tentang tarif ke Uni Eropa dalam perjalanannya kembali dari KTT G7.
Beberapa hasil penting
Meskipun satu pernyataan bersama tentang pandangan umum, seperti yang telah menjadi kebiasaan setelah pertemuan-pertemuan sebelumnya, tidak dikeluarkan, KTT G7 tahun ini menghasilkan sejumlah komunike bersama tentang bidang-bidang tertentu.
Yang patut diperhatikan adalah komunike tentang kecerdasan buatan (AI), yang dianggap sebagai pernyataan paling rinci yang pernah dikeluarkan oleh para pemimpin G7. Pernyataan tersebut menjanjikan pendekatan yang berpusat pada manusia untuk menerapkan teknologi canggih guna meningkatkan kesejahteraan, mendatangkan kepentingan bagi masyarakat dan mengatasi tantangan global yang mendesak, terutama meningkatkan efisiensi ekonomi dan memperkuat keamanan nasional. Selain itu, G7 tahun ini juga untuk pertama kalinya membahas sejumlah topik lain yang menjadi perhatian banyak negara anggota. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan:
“Kami telah membawa banyak topik ke dalam diskusi inti G7, seperti isu pengungsi yang untuk pertama kalinya dibahas di tingkat G7 dan telah menghasilkan satu pernyataan bersama tahun ini. Selain itu, ada juga topik kecerdasan buatan (AI), yang merupakan isu sangat penting di era saat ini. Di samping itu, ada satu topik yang sangat strategis, yaitu mineral penting”.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan sebelum sesi foto di KTT para pemimpin G7 di Kananaskis, Alberta, Kanada, pada 17 Juni 2025. (Foto: REUTERS/Amber Bracken) |
Dalam bidang lingkungan, satu kesepakatan bernama “Piagam Kebakaran Hutan Kananaskis” telah dirumuskan, di antaranya menunjukkan langkah-langkah yang akan diambil oleh negara-negara G7 dan 5 negara undangan, yaitu Australia, India, Meksiko, Republik Korea, dan Afrika Selatan tentang pencegahan kebakaran hutan, kerja sama penelitian dan upaya membangun kembali komunitas yang terdampak. Selain itu, para pemimpin G7 juga telah menandatangani satu pernyataan yang berkomitmen untuk mengatasi penyelundupan manusia lintas batas, di antaranya G7 akan mempertimbangkan penerapan sanksi terhadap para pelaku tindak kejahatan yang terlibat dalam aktivitas penyelundupan manusia dari negara-negara asal aktivitas penyelundupan tersebut.
Salah satu peristiwa bilateral yang patut diperhatikan di sela-sela KTT G7 adalah berakhirnya masa ketegangan diplomatik antara Kanada dan India yang telah berlangsung sejak tahun 2023 ketika Perdana Menteri India, Narendra Modi, menghadiri konferensi pers dan bersama dengan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, berkomitmen untuk memulihkan hubungan kedua negara ke arah normal kembali.








