logo

KTT G7 dan Tantangan terhadap Solidaritas Barat

2025/6/13 | 10:08:17
(VOVWORLD) - Sebagai pertemuan tingkat tinggi pertama dari Kelompok negara-negara industri maju – G7 sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali berkuasa pada awal tahun ini, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 berlangsung dalam konteks ketegangan perdagangan global akibat kebijakan tarif dari AS serta konflik geopolitik yang semakin kompleks di berbagai belahan dunia.

Berlangsung dari tanggal 15 sampai 17 Juni, di Kananaskis, negara bagian Alberta, Kanada, KTT G7 tahun ini merupakan pertemuan tingkat tinggi G7 pertama bagi Presiden AS, Donald Trump dalam masa jabatan keduanya, sekaligus merupakan KTT G7 pertama bagi Perdana Menteri (PM) negara tuan rumah, Mark Carney.

Visi Kanada

Dalam keterangan yang dikeluarkan pada tanggal 9 Juni, Kantor PM Kanada, Mark Carney memberitahukan bahwa prioritas-prioritas utama Kanada pada tahun ini ialah memperkuat perdamaian dan keamanan global, termasuk melawan intervensi negara asing dan kriminalitas lintas negara, meningkatkan kemampuan dalam merespons kebakaran hutan.

Selain topik-topik tersebut, KTT G7 tahun ini akan terus membahas isu-isu geopolitik menonjol lainnya di dunia. Undangan dari tuan rumah Kanada kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, untuk menghadiri Konferensi tersebut menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina akan tetap menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi. Menteri Keuangan Kanada, Francois-Philippe Champagne, menyatakan:

“Saya pikir ini adalah waktu yang sangat penting bagi G7 dan dunia. Tugas kami adalah memulihkan stabilitas dan pertumbuhan. Ini adalah dua target utama dari KTT G7.”

Untuk mewujudkan visi tersebut, selain para pemimpin negara anggota G7 (AS, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang), PM Kanada, Mark Carney juga mengundang sejumlah pemimpin negara lain untuk menghadiri KTT G7 tahun ini, antara lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy; PM Australia, Anthony Albanese; Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa; Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva dan Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum. Yang patut menjadi perhatian adalah Kanada juga mengundang PM India, Narendra Modi untuk berpartisipasi dalam Konferensi ini, meskipun hubungan diplomatik antara kedua negara saat ini sedang mengalami ketegangan. Namun, kemungkinan kehadiran PM India masih belum pasti setelah kecelakaan pesawat tragis yang terjadi pada tanggal 11 Juni di negara bagian Gujarat.

Awan Tarif

Sebagai pertemuan tingkat tinggi G7 pertama yang dihadiri oleh Presiden AS, Donald Trump sejak dia kembali menjabat untuk masa jabatan yang kedua, KTT G7 tahun ini diharapkan akan membantu menangani salah satu hambatan terbesar dalam hubungan antarnegara anggota, yaitu perselisihan dagang akibat kebijakan tarif dari AS. Harapan ini sangat besar dari pihak Jepang, mitra ekonomi yang bahkan diakui oleh Presiden Donald Trump sendiri sebagai “hampir mencapai kesepakatan dengan AS.” Menteri Pemulihan Ekonomi sekaligus kepala delegasi perunding perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, mengatakan:

 “Kami akan meminta kedua pemimpin (PM Jepang dan Presiden AS) supaya memperhatikan sejauh mana negosiasi-negosiasi tarif antara AS dan Jepang telah berkembang. Oleh karena itu, KTT G7 merupakan waktu yang tepat bagi delegasi kami”.

Dari pihak Eropa, Kanselir Jerman, Friedrich Merz, pada tanggal 12 Juni, juga menyatakan bahwa Eropa berharap agar AS segera mencapai kesepakatan kerangka dengan blok ini, seperti kesepakatan kerangka perdagangan yang dicapai antara AS dan Tiongkok pada tanggal 10 Juni di London, Inggris. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, juga mengeluarkan pernyataan serupa. Namun, para pengamat meragukan kemampuan KTT G7 untuk menciptakan terobosan terkait tarif. Sebelumnya, dalam konferensi pers Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G7 pada tanggal 22 Mei di Alberta, Kanada, negara-negara G7 tidak berhasil mencapai kesepakatan apa pun terkait tujuan meredakan ketegangan dagang dengan AS. Bahkan, sehari setelah pertemuan tersebut, pada tanggal 23 Mei, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif sebesar 50% terhadap barang-barang dari Uni Eropa.

Selain tantangan tarif, negara-negara G7 dan beberapa mitra dekatnya juga harus menghadapi perbedaan pendapat yang rahasia di bidang keamanan-pertahanan, terkait dengan pernyataan Presiden AS, Donald Trump mengenai keinginan AS untuk menggabungkan Kanada dan pulau Greenland milik Denmark, serta rencana pemerintah AS untuk meninjau kembali kesepakatan keamanan Aukus yang ditandatangani pada tahun 2021 antara AS, Inggris, dan Australia. Menjelang Konferensi, PM Kanada, Mark Carney mengatakan bahwa negara ini akan meningkatkan kemandirian pertahanan, memperkuat hubungan dengan Uni Eropa dan mengurangi ketergantungan pada AS. Terakhir, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan konflik baru yang meledak di Timur Tengah antara Israel dan Iran juga bika menimbulkan perpecahan antara AS, sekutu terpenting Israel, dan negara-negara Eropa yang semakin bersikap keras terhadap Israel.

TAG
VOV/VOVworld/KTT G7/Kanada/ketegangan perdagangan global

Yang lain