
Keamanan di Afghanistan menjadi masalah yang patut mencemaskan komunitas internasional,
(Foto: radioaustralia.net.au)
Bukan kebetulan, pada Senin 8 Oktober ini, Grup peneliti krisis internasional (ICG) mengumumkan laporan dengan judul: “ Afghanistan: Dari penggalan jalan panjang dan sulit sampai masa transisi 2014” telah mengajukan kesimpulan bahwa pemerintah Kabul mengahadapi bahaya keruntuhan ketika NATO menarik pasukannya dari negara ini pada 2014, khususnya kalau ada kecurangan dalam pemilu presiden yang direncanakan akan diadakan pada tahun yang sama. Sebelumnya, pada Minggu (7 Oktober) ini, Pusat Penelitian Internasional Carnegie juga mengeluarkan peringatan yang mencemaskan bahwa Taliban akan kembali menguasai di Afghanistan setelah tahun 2014. Dari kenyataan semua yang sedang berlangsung di negara ini, semua peneliti dan analis telah mengajukan kesimpulan demikian.


Menurut statistik, sejak bentrokan ini meledak ( dari 7 Oktober 2001 sampai sekarang), telah ada lebih dari 2000 serdadu AS dan kira-kira 1.190 serdadu negara- negara lain dalam pasukan aliansi di Afghanistan yang tewas. Disamping itu yalah kerugian-kerugian yang tidak bisa disebutkan, semua akibat yang harus diderita oleh rakyat Afghanistan. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dari 2007 sampai akhir Agustus 2012, ada 13.431 penduduk sipil Afghanistan yang tewas dalam perang di kampung halaman-nya. Kalau dihitung sejak AS membawa pasukannya ke Afghanistan, menyulut sumbu ledak untuk peperangan ini, maka angka itu mencapai menjadi lebih dari 20.000 orang. Tetapi kenyataan-nya jauh lebih gelap terbanding dengan data-data yang sudah diumumkan. Meskipun lebih dari 130.000 serdadu telah digelarkan di seluruh negeri Afghanistan, tetapi belum pernah sejak membawa pasukan-nya ke medan perang ini pada 2001, NATO bisa menghentikan kebangkitan kaum Taliban. Mimpi buruk terhadap masa depan Afghanistan menjadi akibat yang wajar dari kegagalan tentang strategi NATO yang dikepalai oleh AS.
Sementara itu, di bidang sosial-ekonomi, Afghanistan sedang berada dalam proses menuju ke satu pemilu baru pasca pemilu Presiden dan Parlemen yang kontroversial pada 2009 dan 2010. Akan tetapi, alih-alih mencari cara membuat rakyat percaya pada sistem politik untuk menegakkan kestabilan yang berjangka panjang, Presiden Hamid Karzai dan kabinetnya sedang mencari cara untuk membentuk satu persekutuan sementara untuk mempertahankan kekuasaan, justru hal ini akan membangkitkan satu pertandingan politik yang mungkin bisa berubah menjadi kekerasan setelah pasukan NATO menarik diri dari Afghanistan.

Sedangkan, bagi rakyat Afghanistan, lebih dari waktu 10 tahun ketika AS dan Barat menggelarkan perang untuk menggulingkan rezim Taliban di Afghanistan, kehidupan mereka menjadi semakin mencemaskan. Dalam satu penelitian akhir-akhir ini, Bank Dunia(WB) memprakirakan bahwa setelah tahun 2014, anggaran keuangan tahunan Afghanistan akan mengalami defisit sebesar USD 7 miliar. Tentara negara ini tentunya akan tidak bisa bertempur kalau tidak ada bantuan asing. Satu kenyataan yang menyedihkan yalah Afghanistan telah dan sedang menjadi pusat produksi, distribusi dan pemasaran narkotika dari dunia. Perang dan bentrokan telah melumpuhkan negara ini, Menurut prakiraan, sekarang ini, Afghanistan memerlukan kira-kira USD 10 miliar untuk menyelesaikan proses pembangunan Tanah Air, misalnya untuk memperkuat eksploitasi tambang dan memperluas ekspor dll...

Perang di Afghanistan tampaknya belum ada titik henti. Akan tetapi, hal ini tidak diakui pimpinan NATO dan mereka tetap memastikan bahwa tentara Afghanistan cukup kuat untuk melawan kaum pembangkang. Kenyataan itu bisa menjelaskan penyebab Afghanistan sekarang ini. Opini umum beranggapan bahwa masa depan yang diajukan AS dan Barat ketika melakukan perang membasmi pasukan Taliban dan Al Qaeda di negara ini untuk membangun satu demokrasi memang benar-benar masih sangat jauh. Hal yang disaksikan orang yalah kehidupan rakyat Afghanistan semakin menjadi lebih buruk dengan musibah- musibah yang sedang mengancam dan menakutkan./.








