Surat kabar Wall Street Journal, mengutip sumber-sumber yang melaporkan bahwa jumlah minyak yang diperkirakan akan dilepaskan mencapai 182 juta barel. Jumlah ini melebihi jumlah yang dijual negara-negara anggota IEA ke pasar pada tahun 2022 setelah Rusia melancarkan operasi militernya di Ukraina. IEA saat ini memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak dan sekitar 600 juta barel yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan di bawah arahan pemerintah.
Harga minyak melonjak hampir 30% pada 9 Maret, mencapai hampir 120 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, menyusul ditutupnya Selat Hormuz dan serangan terhadap beberapa fasilitas energi di wilayah tersebut, termasuk kilang-kilang utama di Uni Emirat Arab (UEA) dan Perusahaan Saudi Aramco di Arab Saudi. Harga kemudian sedikit menurun setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan perang dengan Iran "akan segera berakhir," dan beberapa negara mempertimbangkan untuk membuka cadangan minyak nasional mereka guna menstabilkan harga. Namun, risiko tetap naik tinggi karena Iran memperingatkan bahwa mereka "tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak diekspor dari Teluk."








