MSC memusat pada masalah konflik di Ukraina (Foto: securityconference.org) |
Titik Balik Untuk Konflik Ukraina
Dua hari sebelum MSC 61 dibuka, pada tgl 12 Februari, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengumumkan bahwa dia untuk pertama kalinya melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk mengaktifkan negosiasi-negosisi tentang penghentian konflik di Ukraina. Hal yang patut diperhatikan ialah Presiden AS tidak berkonsultasi dengan para sekutu Eropa sebelum melaksanakan pembicaraan telepon dengan Rusia, bersamaan itu juga hanya menyampaikan pemberitahuan kepada Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky setelah itu.
Menurut kalangan pengamat, gerak-gerik Presiden Donald Trump ini di satu aspek bisa menciptakan titik balik menentukan yang turut membantu penghentian konflik yang sedang terjadi selama 3 tahun ini di Ukraina, tapi di aspek yang lain, juga membuat banyak sekutu Eropa dan Ukraina merasa tidak tenang ketika ada bahaya dikesampingkan dalam negosiasi-negosiasi antara AS dan Rusia.
Kekhawatiran ini semakin besar ketika Donald Trump menyatakan dukungan bagi pidato Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Pete Hegseth sebelumnya dalam sidang pada tgl 12 Februari dengan para Menhan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bahwa ide bergabungnya Ukraina pada NATO “tidak implementatif”, bersamaan itu keinginan Ukraina untuk menggabungkan kembali wilayahnya seperti sebelum tahun 2014 “tidak realistis”
Menurut Stephen Wertheim, pakar Institut Perdamaian Carnegie, Pernyataan Menhan AS, Pete Hegseth merupakan “satu konsesi atas kenyataan” dan hal ini memposisikan negara-negara Eropa pada pilihan-pilihan yang sulit. Dalam reaksi tunggal yang diajukan pada tgl 13 Februari, hampir semua negara Eropa, termasuk Inggris menyatakan “akan tidak ada solusi perdamaian yang berjangka panjang bagi Ukraina apabila tidak ada partisipasi dari Eropa pada negosiasi-negosiasi”.
Pada latar belakang ini, pidato Wakil Presiden (Wapres) AS, J.D Vance di MSC tahun ini dengan khusus dinantikan ketika dia bisa memperjelas pandangan resmi dari Pemerintah AS yang baru terhadap penanganan konflik Ukraina. Menurut Volodymyr Ohryzko, mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina dan Direktur Pusat Penelitian Rusia, negara-negara Eropa dan Pemerintah Ukraina perlu memanfaatkan secara maksimal semua pertemuan tingkat tinggi di MSC untuk meyakinkan Pemerintah AS supaya mendukung pandangan-pandangan Eropa.
Sekjen NATO, Mark Rutte (Foto: Xinhua/VNA) |
Tekanan terhadap Eropa
Di samping diskusi-diskusi yang terkait dengan skenario menghentikan konflik di Ukraina, Konferensi Keamanan Munich tahun ini pasti akan menyaksikan kembalinya yang lebih serius dari satu topik yang lama yaitu pengeluaran pertahanan dalam internal NATO dan tanggung jawak keuangan dari para anggota NATO di Eropa. Ketika menyampaikan pidato di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss pada akhir bulan lalu, Kepala NATO mengakui bahwa aliansi militer ini sedang berada dalam sistuasi krisis akibat masalah anggaran keuangan pertahanan.
“Kami sungguh-sungguh sedang berada dalam krisis. Pertama, uang harus dibiayai lebih banyak dan lebih cepat. Tidak semua anggota telah mencapai tuntutan tentang pengeluaraan 2 persen Produk Domestik Bruto (PDB) bagi pertahanan, oleh karena itu, kami harus menyelesaikan pekerjaan ini pada beberapa bulan mendatang. Selanjutnya, kami perlu harus meningkatkan tarap pemberian sumbangan. Angka akurat akan dikeluarkan pada akhir tahun ini tapi ada banyak kemungkinan harus lebih tinggi dibandingkan dengan taraf 2 persen”.
Ketika membagikan pandangan ini, Presiden MSC, Christoph Huesgen menilai bahwa meskipun ada sedikit kemungkinan Presiden AS, Donald Trump menarik semua serdadu AS yang sedang berkedudukan di Eropa pada masa depan yang tidak jauh, tapi pastilah bahwa para pembayar pajak di AS akan tidak merasa puas apabila negara-negara NATO tidak memberikan sumbangan lebih banyak 3 persen PDB untuk pertahanan. Oleh karena itu, secara berjangka panjang, Eropa hanya dengan cara satu satunya yalah membangun kemampuan penjagaan keamanan diri sendiri, mengurangi kebergantungan pada AS.
Selain masalah pemberian keuangan bagi NATO, satu topik lain yang bisa mengobarkan perselisihan antara Eropa dan AS di MSC ialah rencana Presiden AS, Donald Trump tentang pengambil-alihan Jalur Gaza ketika hampir semua negara Eropa memprotes kuat rencana ini. Keinginan AS tentang pembelian Pulau Greenland dari Dermark atau penggabungan Kanada juga menjadi topik-topik sulit yang dijanjikan akan menimbulkan banyak perdebatan di MSC.








