logo

Panorama Forum Demokrasi Bali yang ke-10 di Banten, Indonesia

2017/12/7 | 11:27:00
(VOVWORLD) - Forum Demokrasi Bali  (BDF) yang ke-10 dibuka, Kamis pagi (7/12) di Banten, Indonesia (BDF) di Pusat Internasional (ICE), Serpong, Banten, Indonesia.
Box liên kết tin
http://vovworld.vn/id-ID/rumah-asean/forum-demokrasi-bali-2017tempat-berbagi-pemikiran-dan-pengalaman-untuk-mendorong-demokrasi-603045.vov

Ini ini merupakan konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia. Ini untuk pertama kalinya BDF tidak berlangsung di Bali karena aktivitas gunung berapi  untuk menjamin keselamatan para peserta. 

 BDF menciptakan syarat bagi negara-negara di Asia-Pasifik  berbagi pengalaman tentang perkembangan demokrasi di setiap negara, melihat tantangan-tantangan dari perkembangan demokrasi di kawasan dan mengusahakan solusi untuk semua tantangan ini. 

Yang menghadiri forum ini,  ada Wakil Presiden (Wapres) Indonesia, Yusuf Kalla, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi dan 100 wakil asal 96 negara dan organisasi internasional, seperti ASEAN, Uni Eropa, PBB dan lain- lain....

 Acara tarian  dipertunjukkan oleh para penari muda Indonesia, orang-orang  yang menjadi obyek forum  ini.

Ketika berbicara di depan upacara pembukaan, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi  mengumumkan tema forum ini yalah "Apakah demokrasi bisa tersampaikan" yang memanifestasikan harapan tentang penyebar-luasan dan hasil-guna demokrasi di dunia. 

Wakil Presiden Indonesia, Yusuf Kalla menganggap bahwa demokrasi perlu ada di semua negara di dunia.
 Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres mengucapkan selamat kepada forum ini.
 Acara protokol pembukaan forum ini. Para pejabat main Kentongan membuka forum
 Pada tahun ini, untuk pertama kalinya Forum BDF mengadakan dua sesi perbahasan dan satu sesi perdebatan umum di tingkat Menteri.
 Para Menteri negara-negara peserta telah menunjukkan kenyataan dan masalah-masalah yang dihadapi negara-negara mereka serta solusi melaksanakan demokrasi. 
 Deputi Menlu Indonesia A.M Fachir  (kiri) menutup forum ini dengan simpulan:  "Demokrasi harus berkembang di internal setiap negara dan mengakui keanekaragaman demokrasi di setiap negara”.
 Hal yang baru dari forum tersebut pada tahun ini yalah selain sesi-sesi perbahasan antara para pemimpin, juga diadakan "Konferensi demokrasi mahasiswa Bali" (BDSC) yang diadakan dengan tema "Dari bangku ke demokrasi"
150 orang mahasiswa asal 60 negara yang untuk pertama kalinya menghadiri konferensi telah menyampaikan suara mereka. 
 Dua sesi perbahasan dengan tema: "Peranan dan sumbangan yang diberikan mahasiswa dalam proses politik dan demokrasi" dan "Harapan tentang perkembangan demokrasi-Pandangan mahasiswa dan kalangan muda" berlangsung secara bergelora.
Abdra Cisse, mahasiswa dari Mali berbagi tentang demokrasi di negaranya. Dia menyatakan bahwa hak kebebasan beragama, kebebasan berbicara.... merupakan hak-hak dasar dari manusia.
 Denisa Amelia Kawuryan, wakil rombongan Indonesia mengatakan bahwa komunikasi memainkan peranan penting dalam penyebaran demokrasi. Di antaranya pemuda dan mahasiswa perlu menjunjung tinggi semangat tanggung jawabnya dalam menyebar-luaskan demokrasi.

Para mahasiswa menaruh perhatian pada sesi perdebatan umum.

Menghadiri BDSC kali ini, rombongan Vietnam beranggotakan 6 orang. Menurut mereka, forum ini sangat bermanfaat bagi kaum pemuda.
Duta Besar Vietnam untuk Indonesia, Hoang Anh Tuan yang mewakili Vietnam ikut BDF-X berpotret bersama-sama dengan rombongan BDSC Vietnam. 

 Dalam rangka konferensi ini, para peserta BDSC mengunjungi gedung Kemlu Republik Indonesia (RI)

Pada pertemuan ini, para mahasiswa mendapat kesempatan memberikan usulannya kepada para pejabat Kemlu RI 
 Seluruh 150 mahasiswa bersama-sama berpotret di depan Gedung Pancasila dan mengakhiri kunjungan kehadirian di Forum Demokrasi Bali 2017 di Banteng, Indonesia.
TAG
VOV/VOVworld/BDF/demokrasi/forum/Bali/mahasiswa/Banteng/Indonesia

Yang lain