(VOVworld)- Semua acara pertunjukan wayang yang dipresentasikan oleh para semiman ASEAN pada Festival ke-3 Wayang Internasional di Hanoi sangat beranekaragam, baik tentang isi maupun tentang jenisnya yang kaya raya. Melalui usaha rekonstrstruksi semua legenda folklor dan mencerminkan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupan, semua seniman wayang golek telah mendatangkan acara-acara pertunjukan wayang yang amat khusus kepada Festival tersebut, bisa membantu para penonton bisa lebih memahami kebudayaan masing-masing negara.


Bentuk wayang yang indah, penataan panggung yang dinamis, musiknya yang enak didengar dan cara mengantar cerita yang humoristis menjadi faktor-faktor yang turut mendatangkan penghargaan emas kepada lakon wayang yang bernama: “Kematian Rahwana”.
Kalau rombongan Wayang Ajen Indonesia meninggalkan kesan-kesan mendalam dalam hati penonton melalui perancangan yang teliti dan jumlah yang besar, maka kesederhanaan dan keringanan tapi tidak kurang halusnya adalah perasaan yang diberikan para penonton terhadap lakon dari Jo dan Na- dua orang seniman dari rombongan Hunchangforn Puppet Group Thailand. Jo dan Na telah mempertunjukkan lakon dengan berbagai bentuk yang berbeda-beda, misalnya wayang golek, wayang golek klasik dan wayang golek modern dalam suara musik tradisional. Seniman putri Subtawee (Artisan Na) mengatakan:“Kami sendiri melakukan persiapan semua pekerjan, mislanya mencipta lagu dan melakukan pertunjukan, kami sendiri membuat wayang golek. Hal yang kami pertunjukan yalah semua hal tentang Thailand, wayang golek Thailand, musik Thailand, tari-tarian Thailand dan langgam Thailand”.

Selain memanifestasikan identitas kebudayaan negerinya, salah satu diantara tema-tema panas yang dimasukkan oleh para seniman ke dalam acara pertunjukannya dalam Festival Wayang Internasional kali ini yalah masalah melindungi lingkungan hidup. Diantaranya harus biacara tentang lakon dengan tema: “Setan Sampah” dari rombongan Wayang Golek Filipina untuk menyebarkan pesan tentang perlindungan lingkungan hidup di planit kita melalui peningkatan kesedaran masyarakat dan mendidik kaum anak supaya ikut melakukan pelaksanaan. Sedangkan lakon wayang golek dari rombongan lakon Laos isinya disekitar masalah menjaga hutan di negeri jutaan gajah ini. Seniman Leuthmany Insisiengmay mengatakan: “Program pertunjukan dari rombongan kami berfokus menyosialisasikan suku-suku bangsa Laos, negeri Laos subur yang dulu sebagai negeri jutaan gajah, karena Laos mempunyai banyak gajah. Kami ingin memperkenalkan cara menjaga kepada para penonton mempertakankan lingkungan hidup melalui melestariklan tempat pemukiman dari kawanan gajah, termasuk menggunakaan kekuatan gajah dan membela gajah, karena sekarang ini, jumlah gajah di Laos semakin menjadi sedikit”.
Pada Festival Wayang Internasional kali ini, rombongan tuan rumah Vietnam adalah yang paling banyak mempersembahkan lakon wayang golek, baik wayang golek biasa dan wayang golek air dengan bermacam-macam bentuk yang beranekaragam dan kaya raya, baik folklor maupun modern. Program pertunjukan wayang golek air yang telah paling banyak menimbulkan kesan terhadap sahabat internasional yalah “ Sucinya kata saudara setanah air” yang dipertunjukan oleh Teater Thang Long-Hanoi dan lakon wayang golek yang merebut medali perak yalan lakon wayang golek yang bernama: “Ruang yang putih” dari Teater Wayang Golek Vietnam. Seniman Dalang Wawan Gunawan Ajen, dari rombongan Indonesia mengatakan: “Wayang golek air Vietnam sangat menarik dan unik. Lakon wayang golek air dipertunjukan dengan alat-alat khusus. Saya belum pernah membayangkan bahwa wayang golek air bisa dipertunjukkan di atas permukaan air seperti itu. Wayang golek air di Indonesia kami dipertunjukkan di luar air”

Melalui Festival Wayang Internasional kali ini, para seniman negara-negara ASEAN mendapat kesempatan bertemu, belajar satu sama lain dan mereka ingin menambahkan banyak kesempatan untuk belajar kesenian wayang golek negara sahabat ASEAN.
Festival ke-3 Wayang Internasional tahun 2012 di Hanoi mencapai sukses baik. Vietnam telah menyelesaikan dengan baik peranan sebagai jembatan penghubung kebudayaan antara semua negara, diantaranya ada negara-negara ASEAN, terutama pada latar belakang menuju ke pembangunan komunitas bersama ASEAN pada tahun 2015./.








