(VOVworld) - Ketika memasuki pintu gerbang Museum Etnologi Vietnam, akan kelihatan ada satu layang-layang besar yang mengarah ke udara dengan identitas Asia Tenggara yaitu Museum Asia Tenggara dengan arsitektur modern dan unik yang baru saja diresmikan pada akhir bulan November 2013. Ketika mengunjungi tempat ini, selain memandangi benda-benda dari negara-negra ASEAN, para pengunjung juga menenggelamkan diri di tengah-tengah ruang keanekaragaman budaya dari negara-negara Asia Tenggara.


Ketika masuk ke pintu gedung ini, akan kelihatan satu ruang pameran tentang barang dari kain dan aktivitas kehidupan sehari-hari; topi yang ditempeli dengan biji dari wanita etnis Akha di Laos, bakul gendongan yang tingginya 1,5 meter dari orang Filipina atau kotak dari emas untuk menyimpan benda-benda upacara dan barang lak dari orang Myanmar. Dengan catatan-catatan dalam bahasa Vietnam, bahasa Inggeris dan bahasa Perancis, juga kelihatan di sini adanya barang-barang dari kain yang khas dari banyak negara dengan bermacam-macam bahan seperti kain dari serat pisang milik Filipina, motif-motif di kain batik milik Malaysia yang ditempatkan di samping kerangka alat tenun milik Vietnam, Laos dan Thailand, alat untuk merebus dan membatik dari Malaysia. Daymo Vulavong, mahasiswa tahun ke-3 Akademi Administrasi – seorang mahasiswa Laos sangat terkesan terhadap barang-barang dari kain dari negara-nya yang dipamerkan di sini. Dia memberitahukan: “Ketika mengunjungi museum ini, saya merasa gembira ketika kelihatan busana tradisional, beberapa alat yang beken yang dimilik Laos dipamerkan di sini. Selain itu juga memandangi beberapa alat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dari beberapa negara ASEAN. Melalui itu, saya juga mengerti sebagian kebudayaan negara-negara ASEAN”.
Satu tempat yang menyerap kedatangan dari banyak pengunjung yaitu zona pameran alat tentang pertunjukan kesenian. Di tempat ini, ada banyak alat untuk melayani acara pertunjukan kesenian dari negara-negara ASEAN seperti instrumen musik pukul Kamboja, Myanmar, Brunei Darussalam dan Filipina. Selain itu juga ada bagian-bagian yang diperuntukkan bagi wayang kulit, tarian topeng Jawa, Indonesia.
Ketika mengunjungi Museum Asia Tenggara, selain memandangi benda-benda, para pengunjung juga bisa melihat acara pertunjukan yang sedang dilakukan oleh para pemilik kebudayaan melalui video, melalui itu, orang bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana menggunakan instrumen musik instrumen. Ini juga merupakan tempat lain di Museuem Asia Tenggara yang selalu dipelajari dan dikunjungi oleh Pham Thi Anh Nguyet, mahasiswa tahun ke-4 Univesitas Thanh Do. Dia memberitahukan: “Berwisata ke sini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa, khusunya para mahasiswa falkultas pengkajian Ketimuran seperti saya ini. Kami biasanya mencari tahu tentang informasi tentang semua bangsa, kebudayaan negara-negara lewat internet, tapi ketika datang ke sini, kami dengan mata kepala sendiri menyaksikan –nya, benar-benar lebih bermanfaat, melalui kami juga bisa membuat esay dan perolehan yang lebih berkualitas untuk kepentingan pembelajaran”.
Menurut profesor muda, doktor Nguyen Duy Thieu, Wakil Direktur Museum Etnologi Vietnam, pada awal tahun 2014 ini, lantai ke-2 dan ke-3 Gedung “Layang-Layang” akan dibuka untuk melayani para pengunjung degan bagian pameran di lantai ke-2 ialah 3 kumpulan koleksi tentang pengkajian etnologi-ragam Asia-pemberian Doktor Kaneko Kazushige; lukisan kaca Indonesia-pemberian bapak-ibu, Doktor Rosalia Sciortino, sepintas lintas kebudayaan dunia milik Profesor Le Thanh Khoi. Sedangkan di lantai ke-3 akan dipamerkan tema-tema spesialis sementara dan diterima benda-benda dari museum-museum di Asia Tenggara dan dunia. Mudah-mudahan, museum Asia Tenggara akan merupakan destinasi yang atraktif bagi orang-orang yang suka mencari tahu tentang kebudayaan Asia Tenggara di ibukota Hanoi, Vietnam./.








