Di Kabupaten pulau Koh Sichang, Provinsi Chonburi, Thailand, alat-alat konservasi laut khusus sedang berangsur-angsur diturunkan ke dalam air. Namanya “sắng” yang juga dikenal sebagai alat pengumpul ikan (FAD) rakitan para nelayan dari bahan-bahan sederhana seperti tali tambang, pelampung, lembaran PVC, dan tali Manila… kemudian dilepaskan ke laut pada kedalaman sekitar 3 meter.
“Alat ini membantu ikan dan spesies laut lainnya dalam saat bertelur. Telur akan menempel pada tali tambang. Alat ini dirancang oleh Direktorat Sumber Daya Kelautan dan Pesisir. Kami meminta sampel dan lalu memobilisasi masyarakat untuk bersama-sama membuatnya”.
Wartawan VOV melakukan interviu kepada Bapak Chusak Nanthithanyanthada, Kepala Kabupaten Pulau Koh Sichang. Foto: VOV |
Bapak Chusak Nanthithanyanthada, Kepala Kabupaten Pulau Koh Sichang menambahkan bahwa pola ini juga diperluas dengan terumbu karang buatan – blok-blok beton berongga yang menyediakan tempat berlindung bagi bermacam-macam ikan besar yang hidup di air dalam.
Semua upaya ini tidak hanya dilakukan pemerintahan saja, tetapi juga dilaksanakan secara langsung oleh masyarakat setempat. Sejak tahun 2018, Dinas Sumber Daya Kelautan dan Pesisir Provinsi Chon Buri telah mengorganisasi pembuatan alat yang disebut “sắng” dalam rangka proyek “Pantai bersih, rumah ikan bersih, mengembalikan alam ke tujuan wisata Thailand” di Pulau Koh Sichang dan Pulau Ko Kham Yai. Dalam program ini, 270 pelajar dan mahasiswa bersama dengan para relawan telah bersama-sama membuat 600 alat “sắng”, bersamaan itu ikut menyelam untuk mengambil sampah di bawah laut dan mengumpulkan sampah di pantai.
Kepala Kabupaten Pulau Koh Sichang memperkenalkan pola "sắng" dan terumbu karang buatan. Foto: VOV |
Alat-alat seperti "sắng" atau terumbu karang buatan tersebar merata di sekitar pulau. Karena "sắng" biasanya hanya bertahan selama kira-kira 2 sampai 3 tahun karena rusak atau membusuk, maka masyarakat terus-menerus memperbarui dan menambahkannya. Ibu Siyamon Thianngam, petugas urusan perikanan Kabupaten pulau Koh Sichang, mengatakan:
“Kami mengumpulkan para nelayan menjadi kelompok, bersama-sama membuat “sắng” dan berdiskusi tentang pembangunan terumbu karang. “Sắng” atau terumbu karang buatan yang kami lepaskan ke laut menjadi “rumah bagi ikan, rumah bagi cumi-cumi dan rumah bagi kepiting”. Ketika ada lebih banyak spesies laut, nelayan tidak perlu melaut jauh-jauh. Mereka akan memiliki cukup sumber daya perikanan untuk dieksploitasi langsung di tempatnya. Ini juga merupakan cara untuk membantu mereka”.
Kegiatan pembuatan “sắng” sukarela. Foto: VOV |
Bagi masyarakat di Pulau Koh Sichang, membuat “sắng” atau terumbu karang buatan bukanlah tanggung jawab saja, tetapi juga bagian dari kehidupan yang terkait dengan laut:
-“Pada waktu mendatang kami akan terus membuat terumbu karang. Kami juga mendapat bantuan dari pemerintah melalui pemerintahan daerah”.
- “Direktorat Maririm telah merancang tempat-tempat pelepasan “sắng” dan terumbu karang buatan untuk memelihara ikan kecil dan menyerap kedatangan ikan besar. Dari situ menjadikan kawasan ini sebagai tempat berkumpulnya banyak ikan, sehingga membuat penangkapan menjadi kondusif. Hal ini memberikan banyak kepentingan kepada masyarakat dan nelayan daerah”.
“Rumah-rumah untuk ikan” sedang berangsur-angsur terbentuk di tengah samudra – dengan sinergi dari masyarakat dan pemerintahan. Ini bukan sekadar tindakan konservasi, tetapi juga merupakan komitmen terhadap laut – satu samudra yang hidup kembali, berkelanjutan dan berlimpah, bukan hanya untuk masa kini tetapi juga untuk masa depan./.








