Kepanasan di Lapangan Trocadero yang terletak di samping Menara Eifel pada musim panas di Paris, Perancis pada 1/7/2025 (Foto: REUTERS/Tom Nicholson) |
Dalam laporan "Status Iklim Global 2025" (State of the Global Climate 2025), yang dirilis bertepatan dengan Hari Meteorologi Sedunia (23/03), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan bahwa hampir semua indikator iklim dan lingkungan di Bumi berada dalam status siaga merah dan belum menunjukkan prospek perbaikan yang jelas.
Rekor Suhu Bersejarah
Menurut WMO, hal yang paling mengkhawatirkan adalah peningkatan "ketidakseimbangan energi" Bumi, sebuah indikator yang untuk pertama kalinya dimasukkan ke dalam laporan sebagai tolok ukur utama. Dalam kondisi stabil, energi yang diterima dari Matahari dan energi yang dipancarkan kembali ke luar angkasa hampir seimbang. Namun, akumulasi gas-gas pemerangkap panas, seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O), yang saat ini berada pada tingkat tertinggi dalam setidaknya 800.000 tahun terakhir, telah merusak keseimbangan ini. Tahun 2025 mencatatkan tingkat ketidakseimbangan energi tertinggi sejak pemantauan dimulai pada tahun 1960. Konsekuensi yang paling nyata terlihat pada lautan, yang merupakan "penyerap panas" raksasa bagi planet ini. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, setiap tahunnya lautan menyerap energi yang setara dengan sekitar 18 kali lipat dari total konsumsi energi umat manusia. Pemanasan laut membawa serangkaian dampak, meliputi: degradasi ekosistem laut, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kapasitas penyerapan karbon, peningkatan intensitas badai tropis, serta memicu kenaikan permukaan air laut secara terus-menerus yang mengancam kehidupan dan mata pencaharian miliaran orang. Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett, mengakui:
“Sejujurnya, ini adalah bagian dari gambaran yang suram. Tugas kami hanyalah menyajikan bukti-bukti yang kami lihat, dengan harapan informasi ini akan mendorong semua orang untuk bertindak. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa indikator-indikator yang disajikan tidak mengarah pada jalan yang dapat memberikan banyak harapan.”
Pada kenyataannya, sebelum WMO merilis laporannya tahun ini, sebagian besar pakar iklim di dunia juga telah menyimpulkan bahwa iklim global sedang berada dalam kondisi darurat, di mana Bumi terus didorong melampaui batasnya. Selain itu, tanda-tanda melambatnya komitmen aksi iklim dalam beberapa tahun terakhir semakin memperumit situasi. Samantha Burgess, pakar strategi iklim di Institut Penelitian Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service -C3S) Uni Eropa (EU), menyatakan:
“Saya rasa dalam satu dekade ke depan, yaitu pada tahun 2030-an, suhu dasar Bumi bahkan akan menjadi lebih panas. Frekuensi fenomena cuaca ekstrem di dunia akan meningkat dan konsekuensi yang ditimbulkan oleh fenomena ekstrem ini akan menjadi lebih buruk. Pada saat itu, kita akan menengok kembali kondisi iklim tahun 2020-an sebagai masa yang relatif sejuk dengan rasa nostalgia. Ini adalah kekhawatiran yang nyata.”
Konflik yang Merusak Lingkungan
Fluktuasi besar dalam geopolitik dan ekonomi dunia baru-baru ini menciptakan tantangan tambahan yang signifikan bagi perjuangan melawan perubahan iklim global. Banyak pemerintah telah mengurangi komitmen mereka, bahkan sepenuhnya meninggalkan kebijakan industri hijau yang telah diluncurkan sebelumnya. Menghadapi tekanan persaingan ekonomi, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mencabut subsidi kendaraan listrik, menggenjot ekstraksi dan penggunaan bahan bakar fosil, serta menarik diri dari berbagai komitmen iklim. Sementara itu, di Eropa, demi menyelamatkan industri otomotif Eropa, Komisi Eropa (EC) juga terpaksa melonggarkan komitmennya untuk menghapus mobil bermesin pembakaran internal pada tahun 2035. Yang lebih mengkhawatirkan, konflik geopolitik baru-baru ini di berbagai wilayah (Ukraina, Jalur Gaza, Timur Tengah...) sedang menghancurkan lingkungan dan meninggalkan dampak buruk jangka panjang. Di Timur Tengah, ladang minyak dan gas milik Iran serta negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan telah melepaskan sejumlah besar gas beracun ke atmosfer... Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan:
“Kami sangat prihatin dengan banyaknya laporan akhir-akhir ini mengenai serangan terhadap fasilitas minyak, yang dapat memicu konsekuensi lingkungan yang parah bagi seluruh kawasan Timur Tengah, serta berdampak langsung pada sumber air bersih, udara, maupun makanan. Selain itu, terdapat pula serangan terhadap pabrik desalinasi air di beberapa negara.”
Konsekuensi lanjutan dari konflik saat ini, menurut para pakar ekonomi, adalah ketergantungan negara-negara pada minyak dan gas akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Gangguan pasokan energi global terbesar dalam sejarah akibat tersumbatnya Selat Hormuz akan berdampak jangka panjang, memaksa banyak negara berlomba-lomba membangun cadangan minyak dan gas strategis dalam jangka pendek dan menengah. Namun, di sisi lain, dalam jangka panjang krisis energi ini juga menjadi peringatan bagi negara-negara untuk mempercepat pengembangan sumber energi alternatif pengganti minyak dan gas, khususnya energi terbarukan./.








