(VOVworld) – Bagaimana Uni Eropa melakukan langkah-langkah berikutnya untuk menghadapi bentrokan yang semakin memanas di Ukraina? Adakah perpanjangan sanksi 6 bulan lagi terhadap Rusia, atau perlukah Uni Eropa memberikan bantuan militer maksimal kepada Ukraina?, dll merupakan masalah-masalah besar yang diungkapkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa yang dibuka pada Kamis (19 Maret) di Brussels, ibukota Belgia. Konferensi kali ini dianggap sebagai satu ujian bagi persatuan dan kesatuan Uni Eropa dalam menangani masalah krisis di Ukraina.

Menurut ketentuan Uni Eropa, soal memperpanjang sanksi terhadap Rusia dalam waktu 6 bulan lagi memerlukan ada dukungan dari ke duapuluh delapan negara anggotanya. Namun, pandangan yang saling bertentangan telah memojokkan Uni Eropa pada posisi pasif dan terpecah-belah. Bisa dilihat bahwa pimpinan negara-negara Uni Eropa belum pernah menunjukkan perselisihan seperti sekarang ketika berusaha menggariskan satu strategi berjangka panjang untuk menangani titik panas di Ukraina Timur.
Sanksi tidak bisa memecahkan masalah sampai ke akar-akarnya.
Setelah Rusia menggabungkan Krimea setahun lalu, Eropa telah menghentikan perundingan-perundingan tentang perdagangan dan visa dengan Rusia, bersamaan itu memasukkan banyak politisi dan komandan tentara Rusia ke dalam daftar membekukan harta benda dan membatasi mobilitas. Pada Januari lalu, sanksi-sanksi ini diperpanjang 6 bulan lagi dan sanksi-sanksi ini dijadwalkan akan tidak efektif lagi pada Juli mendatang. Pada kenyataannya, selama setahun ini, sanksi-sanksi terhadap Rusia sedikitnya telah berpengaruh negatif terhadap perekonomian Rusia. Namun, tidak hanya Rusia, melaikan juga negara-negara Uni Eropa juga mengalami kerugian yang tidak sedikit. Tapi, masalah krisis di Ukraina tetap belum ada jalan ke luar dan belum sampai ke satu solusi terakhir. Para pakar Amerika Serikat baru-baru ini juga mengakui bahwa sanksi terhadap Rusia tidak memberikan hasil-guna dan sudah sampai waktunya sebaiknya membahas lagi hasil-guna dari sanksi-sanksi ini. Isolasi-nya terhadap Rusia bertentangan dengan sifat konstruktif sekaligus juga menimbulkan kerugian terhadap fihak yang menjatuhkan sanksi. Semakin ada banyak negara Uni Eropa yang mendukung pandangan ini. Kalau ditinjau pada gerak-gerik diplomasi pada masa belakangan ini yang menunjukkan bahwa daftar tamu yang mengunjungi Istana Kremlin pada waktu belakangan ini dan pada waktu mendatang, bersama dengan tentangan terhadap masalah memperpanjang sanksi terhadap Rusia merupakan bukti tentang naiknya kepercayaan negara-negara ini terhadap Rusia.
Pada Februari lalu, Presiden Republik Cyprus Nicos Anastasiades telah mengunjungi Rusia dan menyerahkan hak bisa masuk ke semua pelabuhan di negara kepulauan ini kepada Angkatan Laut Rusia. Pada Maret ini, Istana Kremlin telah menyambut Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi dan Presiden Vladimir Putin telah menyebutkan Renzi sebagai “mitra yang diprioritaskan”. Menurut rencana, Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras akan menjadi tamu Eropa berikutnya dari Presiden Vladimir Putin dalam kunjungan ke Moskwa yang akan berlangsung pada April nanti.
Pada latar belakang perpecahan sekarang ini, apakah Uni Eropa bisa mengusahakan suara bersama untuk memanifestasikan persatuan dan kesatuan dalam kebijakan terhadap Rusia. Menurut para analis, kemungkinan paling besar di Konferensi kali ini yalah negara-negara ini akan tidak sepakat memperpanjang sanksi dan menunda dikeluarkannya keputusan sampai saat sanksi akan tidak efektif lagi pada Juni 2015. Dan apabila ditunda, hanya tinggal beberapa bulan lagi, Uni Eropa harus mengeluarkan keputusan terakhir. Jawaban-nya tetap sedang diusahakan oleh para pemimpin negara-negara Uni Eropa./.








