Panorama putaran perundingan tentang pemulihan kesepakatan Iran di Wina, Austria (Foto: IRNA/VNA) |
Putaran perundingan terkini adalah putaran perundingan ke-2 yang diadakan pada 2022 antara Iran dan P5+1 (yang meliputi AS, Inggris, Perancis, Rusia, Tiongkok plus Jerman), setelah putaran perundingan yang berlangsung pada Januari meski belum bisa mendatangkan hasil seperti yang diharapkan. Seperti halnya tujuh putaran perundingan yang diadakan pada 2021, rintangan terbesar yang membuat putaran perundingan ke-8 tidak bisa mencapai kesepakatan terakhir ialah perbedaan pendapat yang mendasar antara AS dan Iran di seputar masalah penghapusan sanksi. Namun beberapa hari sebelum putaran perundingan ke-9 diadakan, pada 4 Februari Pemerintah AS secara tiba-tiba mengaktifkan keputusan untuk menghentikan pengenaan sanksi terhadap Iran. Ini dianggap sebagai langkah positif dan menguntungkan perundingan-perundingan yang dinilai semua pihak tengah memasuki tahapan menentukan.
Indikasi-Indikasi yang Menggembirakan
Segera setelah itu, Negara Islam Iran menyambut baik tindakan AS. Kantor Berita Iran ISNA mengutip kata-kata Menlu Hossein Amir-Abdollahian dalam pernyataannya pada 5 Februari yang menegaskan bahwa penghapusan beberapa sanksi menunjukkan iktikad baik AS.
Khususnya, beberapa sumber berita dari Wina juga menegaskan bahwa satu kesepakatan konkret yang tebalnya sekitar 20 halaman terkait penyelenggaraan kembali JCPOA telah disusun oleh para peserta. Isi dasarnya ialah tetap mempertahankan komitmen semula kesepakatan pada 2015 dengan beberapa tambahan yang sesuai dengan konteks baru. Namun belum ada sumber berita resmi yang mengkonfirmasikan informasi ini. Sementara itu para pihak terkait meski memiliki harapan besar tetapi juga mengeluarkan penilaian yang hati-hati tentang kemampuan cepat mencapai kompromi.
Masih Banyak Rintangan dan Butuh Lebih Banyak Upaya
Seorang Jurubicara Kemenlu AS pada 7 Februari menunjukkan: “Satu kesepakatan untuk menangani kecemasan-kecemasan utama dari semua pihak sudah di depan mata, tetapi jika tidak diselesaikan pada pekan-pekan mendatang, maka semua kemajuan nuklir Iran sekarang ini akan membuat kami tidak bisa kembali ke JCPOA”. Demikian pula wakil senior urusan kebijakan keamanan dan hubungan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell juga menganggap bahwa masih ada beberapa perselisihan besar antarpihak, khususnya antara AS dan Iran. Oleh karena itu, pejabat ini menganggap bahwa perundingan-perundingan sekarang meski berada dalam tahapan terakhir tetapi belum tahu berapa lama akan berlangsung.
Menlu Iran, Hossein Amir Abdollahian (Foto: IRNA / VNA) |
Di lain pihak, Menlu Iran, Hossein Amir-Abdollahian dalam pernyataannya yang menyambut baik keputusan AS atas penghapusan sanksi juga menekankan bahwa semua itu di atas kertas saja belum cukup. Pejabat ini meminta Washington agar menunjukkan iktikad baik yang lebih jelas dalam tindakan-tindakan nyata lainnya.
Menurut kalangan analis, usaha menuju ke kesepakatan tentang pemulihan JCPOA masih memiliki persyaratan yang belum pernah ada, terutama iktikad baik dari kedua pihak utama, yaitu AS dan Iran. Bisa dikatakan bahwa kemampuan mencapai kesepakatan sudah di depan mata, tetapi membuatnya dalam jangkauan adalah kisah yang sama sekali berbeda. Masih ada rintangan-rintangan besar. Di antaranya masalah menegakkan kepercayaan antarpihak masih merupakan rintangan terbesar yang menuntut semua pihak berupaya lebih keras untuk mengatasinya./.








