Menurut proyeksi yang diumumkan oleh bank-bank keuangan terkemuka dunia, termasuk UBS, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley pada pekan lalu, pertumbuhan global diproyeksikan akan berada di kisaran 2,5% (proyeksi UBS dan Goldman Sachs) hingga 2,9% (Morgan Stanley). Angka ini tidak optimis seperti proyeksi sebelumnya dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Proyeksi Kurang Positif untuk AS dan Eropa
Amerika Serikat (AS), dengan perekonomian terbesar di dunia, diproyeksikan akan tumbuh dari 1% hingga 2% pada tahun ini, karena di satu sisi tarif mendorong kenaikan harga, dan di sisi lain pasar tenaga kerja yang mulai melemah. Saham-saham AS telah meningkat lebih dari 30% sejak mencapai titik terendah pada bulan April, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan langkah-langkah tarif terhadap sejumlah negara dan teritori di dunia. Dalam proyeksi terbarunya, dua perusahaan pialang saham Wall Street, yaitu: Citigroup dan UBS Global Research, menaikkan proyeksi akhir tahun untuk indeks S&P 500, menunjukkan bahwa risiko kebijakan mulai mereda dan keuntungan badan usaha tetap stabil.
Warga berbelanja di supermarket di Foster City, California, Amerika Serikat. (Foto: Xinhua/VNA) |
Namun, menurut beberapa ekonom, periode ketidakpastian yang berlangsung dari awal April hingga awal Agustus karena kebijakan tarif baru dari pemerintah Presiden Donald Trump, telah berdampak negatif terhadap iklim investasi dan bisnis di AS. Semua dampak ini akan terasa lebih jelas dalam pertumbuhan ekonomi pada separuh kedua tahun ini. Gary Hufbauer, pakar Institut Ekonomi Internasional Peterson (AS), menilai:
“Saya pikir ekonomi AS sedang mengalami pertumbuhan yang melambat karena terbebani utang yang sangat tinggi dari banyak keluarga. Di segi investasi dari badan-badan usaha, meskipun Presiden Donald Trump telah mengumumkan banyak kesepakatan dengan negara-negara lain, tetapi lingkungan investasi pada separuh pertama tahun ini tidak baik karena ada sangat banyak badan usaha yang tidak tahu apa yang akan terjadi, sehingga mereka menunda investasi”.
Bersama dengan AS, prospek pertumbuhan dari negara-negara Uni Eropa juga tidak positif. Menurut data yang baru saja diumumkan pada tanggal 11 Agustus dari Badan Statistik Uni Eropa (Eurostat), total Produk Domestik Bruto (PDB) dari 20 negara di Zona Euro (Eurozone) pada kuartal II pada tahun ini hanya meningkat 0,1% dibandingkan dengan kuartal pertama sebelumnya sebesar 1,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Eurostat menilai prospek pertumbuhan pada bulan-bulan mendatang tidak begitu cerah, ketika AS secara resmi mengenakan tarif impor sebesar 15% terhadap barang dari Eropa, menurut kesepakatan perdagangan Uni Eropa-AS yang diumumkan pada tanggal 27 Juli. Tarif ini direncanakan akan mendorong biaya barang ekspor naik, memaksa badan usaha Eropa menaikkan harga jual di AS atau menerima penurunan laba.
Prospek yang Positif untuk Tiongkok, Inggris
Berbeda dengan proyeksi-proyeksi yang tidak optimis untuk ekonomi AS dan Uni Eropa, beberapa perekonomian besar lainnya dinilai lebih positif. Bagi Tiongkok, perekonomian terbesar ke-2 di dunia, IMF pada akhir bulan Juli mengumumkan versi update “Laporan Prospek Ekonomi Dunia”, menurut itu meningkatkan secara signifikan proyeksi laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada tahun 2025, dari 4% yang dikeluarkan pada bulan April menjadi 4,8%, bersamaan dengan itu juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan negara ini pada tahun 2026 menjadi 4,2%, meningkat 0,2 poin persen dibandingkan dengan periode sebelumnya. Bank-bank besar seperti UBS, Goldman Sachs, Deutsch Bank dan lain-lain juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 4,5 – 4,7% pada tahun ini.
Inggris, perekonomian terbesar ke-6 di dunia, juga mencatat pertumbuhan optimis. Data yang diumumkan Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) pada tanggal 14 Agustus menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi negara ini pada kuartal II tahun ini mencapai 0,3%, lebih tinggi dibandingkan dengan angka 0,1% dalam proyeksi sebelumnya, dengan demikian membawa Inggris menjadi perekonomian dengan pertumbuhan paling kuat di antara 7 negara industri maju (G7) dalam kuartal II. Menteri Keuangan Inggris, Ibu Rachel Reeves, mengatakan:
“Pertumbuhan keseluruhan didasarkan pada faktor-faktor pada paruh pertama tahun ini, dengan peningkatan aktivitas di bidang produksi dan jasa, bidang-bidang terbesar dari ekonomi Inggris serta di bidang kontruksi, fakor yang mencerminkan kebijakan Pemerintah Inggris yang fokus dalam mendorong masyarakat untuk lebih banyak membangun”.
Namun, kalangan pengamat beranggapan bahwa ekonomi Inggris masih menghadapi banyak tantangan dalam paruh kedua tahun ini. Ibu Ruth Gregory, ekonom di Capital Economics, menilai bahwa ekonomi Inggris akan mengalami kesulitan dalam menjaga laju pertumbuhan dalam kuartal III karena pertumbuhan ekonomi global lemah dan dampak-dampak komprehensif dari gelombang peningkatan tarif pada bulan April terhadap aktivitas investasi dan bisnis.








