logo

Tarif AS: Skenario-Skenario Sebelum Batas Waktu Terakhir

2025/7/18 | 10:23:49
(VOVWORLD) - Dalam beberapa hari ini, Presiden Amerika Serikat (AS), terus mengirimkan pemberitahuan tentang tarif baru kepada berbagai negara di dunia, memberikan tekanan besar sehingga para mitra dagang dari AS harus berlomba untuk menghindari tarif tertinggi ketika mengekspor barang ke AS sejak tanggal 1 Agustus.

Dari tanggal 12 sampai 17 Juli, Presiden AS, Donald Trump telah mengirim surat pemberitahuan tarif baru kepada lebih dari 30 negara mitra dagang besar dari AS, di antaranya ada Uni Eropa, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Kanada, dan lain-lain, bersamaan itu memberitahukan akan mengirim surat kepada 150 negara lainnya.

Pilihan Apa untuk Uni Eropa

Langkah baru dari Pemerintah AS tersebut menimbulkan banyak tantangan bagi negara-negara dan organisasi yang sedang ingin menghindari skenario konflik dagang yang menyeluruh dengan perekonomian nomor 1 di dunia. Bagi Uni Eropa, tarif baru yang diumumkan AS (30%), bahkan lebih tinggi dari tarif semula (20%) yang diumumkan Donald Trump pada awal bulan April. Menurut Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, tarif tersebut pada kenyataan sama artinya dengan penghentian perdagangan antara AS dan Uni Eropa. Uni Eropa sampai saat ini masih memprioritaskan solusi perundingan ketika untuk sementara menghentikan balasan terhadap tarif alumnium dan baja dari AS, yang direncanakan akan diterapkan dari tanggal 14 Juli, sampai dengan tanggal 1 Agustus. Namun, seperti dalam masa penangguhan 90 hari yang dikeluarkan oleh pihak AS, tantangan terbesar bagi Uni Eropa saat ini tetaplah memilih pendekatan yang tegas atau fleksibel dalam tahap negosiasi terakhir dengan AS.

Presiden AS Donald Trump berpidato mengenai tarif di Gedung Putih, Washington, D.C., AS, pada tanggal 2 April 2025. (Foto: REUTERS/Carlos Barria)

Menurut Jacob Funk Kirkegaard, pakar di Institut Peneliti Bruegel di Brussel, Belgia, Uni Eropa harus memanifestasikan diri secara lebih kuat. Sementara itu, Cyrus de la Rubia, kepala ekonom Bank Komersial Hamburg (Jerman), menilai:

“Jika hanya melihat segi perdagangan saja, saya mendukung pandangan keras karena menurut saya, hal ini telah dibuktikan dengan pola-pola ekonomi, negara AS mungkin akan menghadapi kerugian yang lebih banyak dari Uni Eropa jika Uni Eropa berencana menerapkan tarif balasan”.

Akan tetapi, beberapa ekonom lain beranggapan bahwa perihal Donald Trump terus menunda pengenaan tarif menunjukkan bahwa Presiden AS tetap ingin mencapai satu kesepakatan dengan Uni Eropa. Kepala ekonom Bank ING (Belanda), Carsten Brzeski beranggapan bahwa Uni Eropa bisa merekomendasikan pembelian barang AS, seperti: kedelai, gas alam cair (LNG), khususnya persenjataan, dalam konteks di mana Uni Eropa juga sedang meningkatkan anggaran pertahanan.

Dampak dari Ketegangan Geopolitik

Dalam pernyataan terbaru yang dikeluarkan pada tanggal 17 Juli, Presiden AS, Donald Trump dengan percaya diri memberitahukan bahwa AS yakin mencapai kesepakatan dengan banyak mitra ekonomi besar pada beberapa hari mendatang, di antaranya ada India, perekonomian terbesar ke-4 dan adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Namun, faktor-faktor ketegangan geopolitik di dunia sekarang dapat membuat negosiasi-negosiasi tarif menjadi rumit dan sulit diduga. Pada awal pekan ini, Presiden AS, Donald Trump telah menetapkan batas waktu selama 50 hari bagi Rusia untuk menghentikan konflik Rusia-Ukraina, bersamaan dengan itu mengancam akan mengenakan sanksi-sanksi berat terhadap Rusia serta para mitra ekonomi dari Rusia jika upaya menghentikan konflik di Ukraina gagal.  

Layar menampilkan gambar Presiden AS Donald Trump di Bursa Efek Bombay (BSE) menjelang rencana penerapan tarif oleh Trump, di Mumbai, India, pada tanggal 2 April 2025. (Foto: REUTERS/Francis Mascarenhas)

Menurut kalangan pengamat, Tiongkok dan India merupakan para mitra ekonomi terbesar dari Rusia sekarang ini, oleh karena itu, jika ancaman AS tentang pengenaan tarif sebesar 10% terhadap negara-negara ini diberlakukan (secara tak langsung akan memberikan tekanan ekonomi terhadap Rusia), hasil-hasil negosiasi dengan India selama ini, bahkan kesepakatan yang telah dicapai dengan Tiongkok sebelumnya, mungkin berdampak buruk. Bagi satu perekonomian besar lainnya yaitu Brasil, ancaman dari Donald Trump untuk mengenakan tarif 50% juga dianggap sebagian berasal dari faktor-faktor nonkomersial.

Menurut Profesor Alan Sykes, dari Sekolah Hukum, Univesritas Stanford (AS), pada latar belakang saat ini, apakah konflik-konflik dagang global bisa segera diselesaikan sebelum tanggal 1 Agustus atau tidak masih menjadi tanda tanya besar.

TAG
VOV/VOVworld/Tarif AS/Uni Eropa/negosiasi/Donald Trump

Yang lain