(VOVworld) - “Kita adalah sesama sahabat-sahabat akrab”. Begitulah kata-kata yang paling banyak diulangi setelah malam kebudayaan Vietnam-Indonesia yang berlangsung di kota Hanoi pada awal bulan ini.
Tarian “Piring” merupakan satu tarian tradisional daerah Sumatra Barat. Tarian ini dulu termanifestasikan dalam upacara syukuran terhadap bumi yang sudah melindungi rakyat setempat yang mendapatkan musim panenan yang berlimpah-limpah. Dalam tarian ini, masakan-masakan ditempatkan di piring dan para seniman-seniwati dalam pakaian tradisional dengan baju kurung Melayu yang warnanya merah, dua tangan memegang piring dan menari dengan gerak-gerak tangan yang kuat dan luwes, tapi tidak boleh membuat dua piring ini jatuh. Barang kali, tari ini disebut sebagai tari piring
Saudara Osep – seorang seniman dalam rombongan Padang memberitahukan bahwa Tari “Piring” adalah tari yang paling sulit karena para seniman-seniwati tidak boleh menjatuhkan piring pada saat selalu memperhatikan dan mengkombinasikan gerak tangan dan kaki dengan gerak Pencaksilat dalam tiap-tiap gerak-nya. Bagi seniman-seniwati yang berpengalaman 8 tahun, dukungan para penonton adalah dorongan semangat yang besar bagi mereka untuk memanifestasikan secara baik aspek-aspek kebudayaan tradisional. Dia memberitahukan: “Bagi kami, senyum dan tepuk tangan kegembiraan dari penonton adalah kepuasan kami sendiri. Mudah-mudahan Indonesia lebih dikenal lagi kebudayaannya dan diambil lagi oleh Negara tetangga kita. Mudah-mudahan dia tahu bahwa tarian yang kita ambil ialah tarian Indonesia.
Sambutan dan dukungan yang hangat dari para penonton merupakan dorongan semangat yang sangat besar terhadap Panitia Penyelenggara peristiwa ini. Wakil Ketua Gabungan Asosiasi Persahabatan kota Hanoi, Ibu Vu Thi Hai percaya bahwa aktivitas ini akan turut mengaitkan perasaan tradisional dari rakyat dua negeri. Dia mengatakan: “Program ini merupakan peluang yang luar biasa bagi kita untuk bisa lebih mendekati untuk turut memperkuat solidaritas, persahabatan dan pertukaran kebudayaan dua negara, khususnya saling pengertian antara rakyat ibukota Hanoi, Vietnam dengan rakyat Indonesia dan sahabata-sahabat internasional”.
Sependapat dengan ibu Vu Thi Hai, Konselor Kebudayaan dan Informasi Indonesia, Ibu Ingan Malam percaya bahwa Malam Kebudayaan Vietnam-Indonesia akan semakin mendorong hubungan persahabatan antara rakyat dua negeri yang sudah ada sejak lama. Dia mengatakan: "Kita ingin masyarakat Vietnam lebih tahu tentang Indonesia karena mungkin seperti kata pak Dubes bahwa tahu nama Indonesia tapi tidak mengenal budayanya. Kita ingin ada variasi biasanya ada budaya jawa, sekarang ada budaya dan kali ini kita ingin memperkenalkan budaya Sumatra supaya semua bisa melihat semua wajah dari budaya Indonesia
Bisa dikatakan bahwa Malam Kebudayaan Vietnam-Indonesia bersama-sama dengan banyak program temu pertukaran kebudayaan dan kesenian selama bertahun-tahun ini telah memang benar-benar menjadi jembatan bagi persahabatan dan saling pengertian antara rakyat dua negeri, bersama-sama mendorong persahabatan rakyat di bawah rumah bersama ASEAN./.








