Wanita Jrai menumbuk padi (Foto: VOV5) |
“Menurut adat istiadat warga Jrai, perempuan harus tahu cari menumbuk pagi, mencari kayu bakar, mengambil air dan menenun kain. Seorang gadis harus memiliki semua faktor itu baru boleh menikah. Wanita memasak dan pria melakukan pekerjaan berat lainnya.”
Untuk mendapat beras, warga etnis Kinh menggunakan banyak alat seperti: penggilingan, lesung, alu, penampi, keranjang penampi,.. sedangkan warga etnis Jrai cukup dengan lesung, alu dan penampi saja. Ini merupakan alat-alat yang dekat, terkait dengan seumur hidup kaum perempuan. Mungkin karena itu, ketika menikah, gadis Jrai akan mendapat lesung dan alu sebagai mas kawin.
Lesung untuk menumpuk padi dibuat dari batang kayu besar yang dilubangi dalam-dalam. Alu merupakan sepotong kayu lurus, bagian tengahnya kira-kira sebesar dua tinju, salah satu ujung alu lebih besar dan ujung lainnya lebih kecil. Untuk merontok padi dengan cepat, harus ada dua orang yang menumpuk padi bersama-sama, berkoordinasi satu sama lain secara fleksibel dan berirama.
Ketika menumbuk padi, warga Jrai memasukkan bulir padi ke dalam lesung dan menumbuknya dengan ujung alu yang kecil guna melepaskan semua sekamnya, kemudian menggunakan ujung alu besar untuk menyosoh semua dedak padi. Mereka menggunakan kekuatan cukupnya untuk merontok padi tapi tidak memecahkan bulir beras maka berasnya putih. Saudari Rơ Châm Hà di Kecamatan Ia Mơ Nông, Kabupaten Chư Pah, Provinsi Gia Lai mengatakan:
“Biasanya ada dua orang yang menumbuk padi. Setiap orang menggunakan satu alu tergantung pada kesehatannya. Yang tua menggunakan alu kecil dan yang muda menggunakan alu lebih besar. Setiap kali menumbuk padi akan memasukkan sekitar 3-4kg bulir padi.”
Menampi beras (Foto: VOV5) |
Setelah menumbuk padi, tangan yang luwes dari perempuan Jrai terus menampi beras. Mereka menggunakan penampi beras.
Saudari Rơ Châm H’Xuyên di Kecamatan Ia Mơ Nông, Kabupaten Chu Pah, Provinsi Gia Lai mengatakan:
“Wanita harus membangun pada jam 4 pagi untuk menampi beras. Menumbuk dan menampi dua kali hingga menyaring beras yang bersih.”
Sekarang ini, mesin telah membebaskan dan menggantikan tenaga manusia. Akan tetapi, sampai ke musim festival, atau setiap kali menjemput wisatwan, di seluruh dukuh bergema suara orang menumbuk pagi berbaur dengan gemuruhnya suara gong dan bonang. Suara-suara ini telah menciptakan ruang budaya yang kental dengan identitas Tay Nguyen./.








