Dalam interviu dengan Fox News, ia menuduh Iran yang ingin mengontrol jalur air strategis tersebut dengan mewajibkan negara-negara lain harus “berkoordinasi, meminta izin dan membayar biaya” lintas.

Pada hari yang sama, Gedung Putih mengonfirmasikan bahwa Presiden Donald Trump telah melakukan sidang tertutup dengan para penasihat keamanan senior untuk mendiskusikan usulan Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sementara itu, Menlu Iran, Abbas Araghchi menyampaikan kekhawatirannya terhadap sikap AS yang dinilaimerintangi penanganan konflik dengan jalan diplomatik. Dalam pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Saint Petersburg, pada 27 April, Arghchi mengkritik tindakan AS yang dianggap Teheran sebagai peningkatan ketegangan. Ia menyoroti berbagai tuntutan yang tidak masuk akal, perubahan pendirian yang tidak konsisten, retorika ancaman dan pelanggaran komitmen yang berulang kali” oleh pihak AS.Di pihak lain, Presiden Rusia, Vladimir Putin menegaskan kembali komitmen Moskow yaitu terus memperkokoh hubungan strategis dengan Iran, berupaya berkontribusi pada perdamaian di Timur Tengah, serta berharap masyarakat Iran dapat mengatasi masa-masa kesulitan sekarang ini.

Dalam perkembangan terkait, ketika menyampaikan pidato di depan sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada 27 April, Perwakilan Iran di PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa keamanan dan stabilitas jangka panjang di Teluk Persia dan di seluruh kawasan secara lebih luas, hanya dapat dicapai dengan mengakhiri tindakan agresi terhadap Iran secara tuntas dan menjamin hak kedaulatan serta kepentingan Teheran yang sah.