Pada konferensi tersebut, Wakil Perdana Menteri Tetap Vietnam, Pham Gia Tuc menekankan lima bidang kerja sama prioritas antara Vietnam dan AS pada waktu mendatang:
“Pertama, teknologi tinggi, khususnya semikonduktor, kecerdasan buatan (AI) dan data. Kedua, energi bersih dan transisi hijau. Ketiga, pengembangan rantai pasokan yang berkelanjutan, penguatan konektivitas produksi, diversifikasi sumber pasokan dan peningkatan kapasitas logistik. Keempat, keuangan, inovasi kreatif dan startup, dengan memfasilitasi pengembangan model-model keuangan baru, memobilisasi sumber daya jangka panjang dan mendukung perusahaan-perusahaan inovatif. Kelima, pendidikan, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia berkualitas tinggi, dengan meningkatkan kerja sama antar perguruan tinggi, lembaga penelitian dan perusahaan, menyelaraskan pelatihan dengan kebutuhan nyata sektor-sektor teknologi baru”.
Untuk mendorong kerja sama di bidang-bidang tersebut, Wakil Perdana Menteri Pham Gia Tuc menegaskan bahwa Pemerintah Vietnam berkomitmen akan terus melakukan reformasi kelembagaan guna meningkatkan iklim investasi dan bisnis menuju transparansi, stabilitas, prediktabilitas, dan kondisi yang lebih kondusif bagi investor.
Ia menginginkan agar para pelaku usaha AS terus memperluas investasi di Vietnam dan meningkatkan kerja sama di bidang teknologi inti, khususnya semikonduktor; memperluas konektivitas di bidang teknologi, peralatan, jasa, standar produksi, dan rantai pasokan guna menciptakan landasan bagi kerja sama jangka panjang.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk Vietnam, Jennifer Wick, menegaskan bahwa para pelaku usaha AS siap bekerja sama dengan Vietnam untuk mewujudkan berbagai target pembangunan.





