Bulan Juli adalah bulan saat seluruh bangsa mengenang para putra-putri yang telah berkorban demi kemerdekaan dan kebebasan Tanah Air. Kenangan tersebut diwujudkan dalam “Kampanye Lima Ratus Hari Siang Malam untuk Memperkuat Pencarian, Pengumpulan dan Identifikasi Kerangka Martir” yang tengah dilaksanakan di seluruh negeri. Di Vi Xuyen (Provinsi Tuyen Quang), medan perang sengit pada masa lalu, para anggota Tim Pencari dan Evakuasi kerangka martir Provinsi Tuyen Quang secara senyap dan teliti menggali setiap jengkal tanah dan memeriksa setiap celah batu. Setiap cangkulan tanah yang diangkat membawa satu harapan: Memulangkan para martir! Dalam acara khusus hari ini, mari bersama kami menyimak sebuah proses yang sunyi namun sangat sakral: perjalanan para prajurit yang mencari kawan seperjuangannya di tengah rimba dan gunung batu Vi Xuyen.
Bagian Satu: Berlomba dengan Waktu
Di bumi Vi Xuyen, Provinsi Tuyen Quang, dalam perjuangan membela Tanah Air di wilayah perbatasan di Vietnam Utara (1979-1989), lebih dari 4.000 perwira, prajurit dan warga setanah air telah gugur untuk mempertahankan setiap jengkal tanah di sana.
Memasuki Kampanye Lima Ratus Hari Siang Malam, Markas Komando Militer Provinsi Tuyen Quang menurunkan pasukan dan peralatan secara maksimal. Letnan Kolonel Bui Phu Vinh, Perwira Politik Tim Pencari dan Evakuasi Kerangka Martir (Markas Komando Militer Provinsi Tuyen Quang) menuturkan:
“Untuk menyelesaikan kampanye, tim dibagi menjadi beberapa kelompok dan unit untuk mencari lokasi-lokasi yang memiliki informasi mengenai keberadaan kerangka para martir. Berdasarkan hal tersebut, Tim menentukan dan mengusulkan kepada pihak atasan untuk memobilisasi pasukan pencari tambahan demi mencapai target yang telah ditetapkan dalam kampanye tersebut.”
Bukan hanya para prajurit masa kini, para veteran perang yang pernah bertempur di Vi Xuyen juga tidak pernah padam kerinduannya akan para kawan seperjuangan yang masih terbaring di medan perang. Sambil menatap ke arah tebing gunung yang kabut, veteran perang Nguyen Van Duong, mantan prajurit Pos Penjaga Perbatasan Lao Chai mengatakan:
“Banyak kawan sekesatuan saya masih terbaring di berbagai bukit dan lereng gunung, belum bisa pulang ke kampung halaman. Kami bersama-sama mencari mereka. Saya hanya menginginkan agar mereka ditemukan dan dibawa oleh tim-tim pencari ke sini, Taman Makam Vi Xuyen. Kawan sekesatuan, keluarga dan kerabat juga menunggu mereka”.
Bagian Dua: Mencari Kawan Sekesatuan di Tengah Gunung Batu Tajam
Lebih dari 40 tahun setelah perjuangan membela garis perbatasan di Vietnam Utara, hutan-hutan telah menghijaukan bukit-bukit yang pernah “merupakan tungku batu kapur abad”, berbagai “titik kematian” bernomor 685, 772, 1030 di Vi Xuyen. Tetapi di bawah terowongan yang hancur dan celah-celah batu tajam, masih ada ribuan putra-putri terbaik bangsa yang belum pulang. Bagi para prajurit Tim pencari dan pengumpul kerangka martir, Markas Komando Militer Provinsi Tuyen Quang, Kampanye Lima Ratus Hari Siang Malam bukan sekadar pelaksanaan tugas, melainkan sebuah misi dari hati: melanjutkan perjalanan membawa pulang kawan seperjuangan ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Untuk menjangkau bukit-bukit di garis depan Vi Xuyen, para anggota Tim Pencari harus menembus hutan selama beberapa jam, menyusuri tebing curam, dan memanjat tangga rakitan dari kayu hutan. Hujan hutan, kabut tebal, kondisi geologis yang berbahaya membuat setiap langkah kaki penuh dengan risiko.
Cuaca yang esktrem di sana menguji tekad dan ketabahan manusia. Hujan lebat membuat tanah merah menjadi lengket dan menutupi sisa-sisa tulang, ranjau, serta bahan peledak….. sehingga menyulitkan pencarian. Letnan Satu Hoang Ngoc Tuyen, petugas di bukit 400 Batu mengatakan: “Ketika hujan turun, medan menjadi kian berat. Tanah merah t yang lengket membuat proses penggalian berjalan lambat, sehingga kerangka para martir semakin sulit ditemukan. Meski begitu, tekad kami tidak pernah surut. Waktu terus berjalan, dan para martir sudah terlalu lama terbaring dalam dingin di sini”.
Di beberapa lokasi, alat berat tidak bisa masuk. Para prajurit hanya menggandalkan linggis, palu, sekop dan kape kecil untuk menggali setiap bongkahan batu, menyapu lapisan tanah tipis, serta mencari setiap jejak yang tersisa. Pekerjaan ini membutuhkan tenaga sekaligus ketekunan serta penghormatan terhadap setiap tulang-belulang. Mayor Prajurit Profesional Nguyen Dang Cuong, anggota Unit 5, yang untuk pertama kalinya ikut pada tugas ini mengatakan bahwa rasa balas budi yang mendalam terhadap generasi pendahulu telah membantunya mengatasi berbagai kesulitan.
“Kami melaksanakannya dengan penuh tekad dan pemghormatan terhadap generasi pendahulu. Dengan semangat dan tekad tertinggi, kami berupaya sekuat tenaga untuk mencari sebanyak mungkin kerangka para martir agar bisa dipulangkan ke kampung halaman mereka.”
Bahaya tidak hanya datang dari gunung batu atau cuaca, melainkan juga dari ribuan ranjau dan amunisi sisa perang yang siap meledak setelah berdekade-dekade terbaring di dalam tanah atau celah batu. Oleh karena itu, pedoman menyeluruh yang selalu dicamkan oleh Tim pencari adalah “membersihkan ranjau sejauh pencarian dilakukan”. Pasukan Zeni secara khusus selalu melangkah satu tahap lebih awal.
Di Bukit 400 Batu, titik penting dan paling sengit di medan perang Vi Xuyen pada masa lalu, rasa haru dan bahagia menyelimuti Tim pencari dan evakuasi saat kerangka martir berhasil ditemukan, setelah berpuluh-puluh tahun terbaring di tengah gunung batu dan angin perbatasan. Letnan Satu Hoang Ngoc Thuyen berbagi:
“Saat itu, rasa gembira dan haru menyelimuti kami. Saya adalah orang yang langsung menemukannya, lalu rekan-rekan segera mendekat untuk memeriksa dan mengidentifikasi. Penemuan itu memberi kami tambahan kekuatan. Meskipun cuaca sering berganti, antara panas dan hujan, kami semua bertekad menyelesaikan tugas ini sebaik mungkin demi mencapai hasil terbaik”.
Setiap hari, di lereng gunung batu Vi Xuyen, langkah-langkah kaki tim pencari dan evakuasi tetap menyusuri celah-celah batu tajam. Bagi mereka, memulangkan kawan seperjuangan bukan sekadar menyelesaikan tugas, tetapi merupakan cara generasi hari ini mempertahankan janji kepada mereka yang telah gugur demi kedamaian Tanah Air.
Bagian Tiga: Nada Tertutup Bulan Juli
Bulan Juli di Vi Xuyen, setiap konvoi dari daerah dataran rendah membawa para veteran perang ke wilayah perbatasan. Setiap kendaraan juga dipasang spanduk: “Mengunjungi Kembali Medan Perang Masa Lalu”. Pada tanggal 12 Juli, hari peringatan pertempuran, hutan dan gunung Vi Xuyen sekali lagi membuka hati untuk menyambut kedatangan para putra-putri terbaiknya agar mereka yang masih hidup dapat mencari yang telah gugur, dan mereka yang telah gugur menanti nama mereka kembali disebut.
Di tengah kerumunan yang khusyuk membakar dupa di pemakaman, nampak para veteran perang berambut putih dengan langkah yang tak lagi kokoh. Bagi mereka, bulan Juli adalah janji sakral kepada para kawan seperjuangan yang masih terbaring di celah batu, atau tebing gunung Vi Xuyen. Han Dinh Ngu, mantan prajurit khusus, yang setiap tahun selalu kembali ke Vi Xuyen menuturkan:
“Setiap tahun, kami datang ke sana untuk menyalakan dupa kepada para kawan sekesatuan. Ada yang belum diketahui asal usul maupun keluarganya, dan masih terbaring di tebing-tebing batu. Karena itu saya merasa bersalah kepada mereka jika ada tahun saat saya tidak datang ke sini”.
Dinh Nuoc Long, seorang prajurit dari Divisi 313, bahkan masih datang ke Vi Xuyen puluhan kali setiap tahunnya. Dengan biaya pribadi, ia menyusuri anak sungai untuk memandu tim pencari dan evakuasi hingga berhasil memulangkan lebih dari sepuluh kawan seperjuangan ke pangkuan Ibu Pertiwi.
“Setiap kali datang ke sana, saya sangat terharu dan merasa sangat kehilangan mereka. Kawan seperjuangan saya masih terbaring di wilayah perbatasan. Lebih dari 2.000 mereka belum ditemukan jasadnya. Hanya kami yang masih hidup dan pernah bertumpur di sanalah yang tahu di mana mereka terbaring. Besok, saya akan memandu saksi ke titik 1509 untuk menentukan lokasi bagi tim pencari”.
Para prajurit masa lalu telah mengubah kesedihan menjadi tindakan, mengubah janji menjadi langkah yang tak pernah lelah. Seperti yang dituliskan oleh seorang prajurit “Saat gugur berubah menjadi batu yang abadi/Masih bersemayam di sini untuk menjaga garis perbatasan”.
Para pendengar!
Baru saja kita menyusuri jejak langkah para perwira dan prajurit tim pencari dan evakuasi kerangka martir Provinsi Tuyen Quang –sebuah perjalanan dari mereka yang masih hidup mencari mereka yang telah gugur demi menepati janji yang tertunda selama hampir setengah abad. Banyak kerangka martir dan barang peninggalan telah ditemukan. Namun di depan sana, masih terdapat ribuan nama lain sedang menunggu dipanggil di tengah gunung batu di garis perbatasan. Kampanye Lima Ratus Hari Siang Malam baru berjalan seperlima dan para prajurit masa kini telah berjanji mereka tidak akan berhenti sampai para martir terakhir berhasil dipulangkan.
Melalui Acara Khusus ini, kami menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan setingi-tingginya kepada para martir dan pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan dan kebebasan Tanah Air, kepada para keluarga martir, para veteran perang yang siang malam menantikan kembalinya kawan seperjuangan mereka. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para prajurit yang dalam kesenyapan terus mengukir kisah bakti melalui perjalanan yang bermakna sakral ini.




