VOV WorldVOV World
Kembali ke Tanah Leluhur untuk Semakin Bangga Akan Asal-Usul
25/04/2026 07:45
[VOVWORLD] - Setiap bulan ketiga kalender Imlek tiba, tanah suci Nghia Linh (di Kecamatan Hy Cuong, Provinsi Phu tho) kembali menjadi titik temu semangat persatuan besar. Warga Vietnam dari seluruh penjuru berkumpul di sini untuk kembali ke jati diri, mengenang asal-usul, serta mepertebal rasa cinta dan bangga terhadap dua kata “saudara sebangsa”. 
Kembali ke Tanah Leluhur untuk Semakin Bangga Akan Asal-Usul
Sejak dahulu kala, bait pantun rakyat “Siapa pun yang pergi ke mana pun /ingatlah hari peringatan Leluhur pada tanggal sepuluh bulan ketiga” bukan sekadar pengingat waktu, melainkan telah terukir dalam alam bawah sadar jutaan hati anak cucu Lac Hong (rakyat Vietnam) sebagai hari besar bangsa. Setiap bulan ketiga kalender Imlek tiba, tanah suci Nghia Linh (di Kecamatan Hy Cuong, Provinsi Phu tho) kembali menjadi titik temu semangat persatuan besar. Warga Vietnam dari seluruh penjuru berkumpul di sini untuk kembali ke jati diri, mengenang asal-usul, serta mepertebal rasa cinta dan bangga terhadap dua kata “saudara sebangsa”.  25.4-pst7-anh_1.jpg Malam pembukaan Festival Kuil Raja Hung dengan tema “Kesakralan asal-usul – Tanah Leluhur Raja Hung” berlangsung dengan partisipasi banyak warga dan wisatawan. (Foto: Dinh Tuan/VOV) Sejak pagi hari, arus peziarah menuju tanah leluhur telah mengular mulai dari kaki gunung suci Nghia Linh hingga ke Den Thuong, tempat pemujaan para Raja Hung yang berjasa mendirikan negara Van Lang, negara pertama bangsa Lac Viet pada masa lampau. Meski hari puncak perayaan jatuh pada hari Minggu (tanggal 10 bulan 3 kalender Imlek), banyak warga yang memilih datang lebih awal ke Kuil Raja Hung demi merasakan momen keheningan saat memanjatkan rasa syukur. Tanpa membedakan usia maupun daerah asal, semua orang berkiblat ke leluhur dengan ketulusan yang mendalam. Rombongan peziarah tidak hanya berasal dari berbagai provinsi dan kota terdekat, melainkan juga mereka yang menempuh perjalanan jauh - mulai dari Vietnam Tengah yang panas dan berangin, dari Vietnam Selatan yang jauh, hingga dari kawasan pegunungan di perbatasan di Vietnam Utara demi dapat hadir di sini menjelang hari puncak perayaan. “Kami berangkat sejak pukul 12 malam, dan tiba di sini pada pukul 5 pagi. Setibanya di sini, kami merasa sangat antusias dan gembira, sehingga rasa lelah pun hilang seketika. “Kami datang dari Kota Hue untuk kembali ke tanah leluhur. Kami merasa sangat tersentuh dan bangga bisa datang ke sini untuk mempersembahkan dupa kepada Raja Hung sebagai ungkapan rasa terima kasih”. 25.4-pst7-anh_2.jpg Arus masyarakat menuju Tanah Leluhur untuk mempersembahkan dupa pada peringatan Festival Kuil Raja Hung. (Foto: Dinh Tuan/VOV) Di tengah suasana sakral di tanah leluhur, rasa bangga bangsa seolah semakin mendalam dalam diri setiap anak bangsa Vietnam. Kuil Raja Hung bukan sekadar situs sejarah, melainkan juga simbol spiritual yang sangat bermakna. Di kawasan situs sejarah nasional istimewa ini, suasana perayaan terasa khidmat melalui berbagai ritual tradisional, sekaligus tetap meriah dan semarak dengan keragaman warna budaya. Dalam kesadaran masyarakat Vietnam, setiap anak bangsa lahir dari satu kantong berisi seratus telur Ibu Au Co. Legenda tersebut telah membangkitkan kesadaran akan identitas bangsa, dan ikatan saudara sebangsa, serta menyatukan seluruh rakyat dalam satu persatuan besar. Di mana pun mereka berada, jutaan hati tetap berkiblat ke tanah suci Nghia Linh. “Ini adalah untuk pertama kalinya saya datang ke sini tepat pada hari puncak perayaan. Meskipun sangat ramai, saya bisa merasakan betapa rakyat Vietnam hidup dengan penuh rasa syukur”. “Saya melihat setiap tatapan dan senyuman orang-orang yang datang ke sini -tanpa membedakan suku atau etnis - semuanya seperti saudara dalam satu keluarga yang sangat akrab dan dekat. 25.4-pst7-anh_3_1.jpg Perwakilan dari berbagai desa dan kecamatan di provinsi tersebut mempersembahkan dupa untuk mengenang serta menghormati jasa para Raja Hung . (Foto: Dinh Tuan/VOV) Ikatan masyarakat yang kuat tersebut telah mengubah mskna “saudara sebangsa” menjadi sumber kekuatan internal yang besar bagi bangsa. Di tengah ruang sakral tanah leluhur, perjalanan kembali ke asal-usul tidak hanya menjadi sarana bagi setiap anak bangsa Vietnam untuk menoleh ke masa lalu, tetapi juga untuk menemukan sandaran spiritual yang paling kokoh. Di antara arus peziarah yang memadati tanah leluhur saat ini, Situs sejarah Kuil Raja Hung juga menyambut warga Vietnam yang pulang dari berbagai penjuru dunia. Bagi komunitas diaspora Vietnam, perjalanan menapaki lebih dari 500 anak tangga batu menuju Istana Kinh Thien di puncak gunung Nghia Linh merupakan sebuah pengalaman yang suci dan penuh makna. “Saya merasa sangat beruntung bisa menginjakkan kaki di Istana Kinh Thien dan mempersembahkan sebatang dupa dengan sepenuh hati. Momen ini sungguh sakral bagi setiap diaspora Vietnam”. “Saya merasa sangat terhormat dapat datang ke sini untuk mempersembahkan hio kepada para Raja Hung dan mengenang para Raja Hung yang telah berjasa mendirikan negara ini”. Hari Peringatan Leluhur tidak hanya menjadi momen untuk mengenang masa lalu, tetapi juga saat bagi setiap orang Vietnam masa kini untuk lebih menyadari tanggung jawab dalam menjaga tanah air, serta mewujudkan aspirasi membangun negara yang kuat dan makmur. Seperti pepatah mengatakan: “Manusia memiliki leluhur dan asal-usul, layaknya pohon yang berakar dan sungai yang bersumber”. Perjalanan ungkapan rasa terima kasih yang suci ini telah menjadi nilai budaya yang luhur, mencerminkan moralitas bangsa Vietnam yaitu “Minum air, ingat pada sumbernya”
TAG
VOV/VOVWORLD/Hari Peringatan Leluhur/Bangga Akan Asal-Usul/menjaga tanah air