Bersamaan dengan itu, mereka menyerukan mendorong jadwal pelaksanaan tahap kedua untuk mempertahankan gencatan senjata, mengurangi situasi kemanusiaan dan menuju pemulihan serta restrukturisasi Jalur Gaza.
Pertemuan tersebut berlangsung pada 22 September, di New York, Amerika Serikat (AS) di sela-sela Sesi debat tingkat tinggi Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB). Dalam Pernyataan Bersama, para Menlu menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza. Pada saat yang sama, para Menlu mendesak Israel untuk segera melaksanakan komitmen yang tersisa pada tahap pertama Rencana Komprehensif, termasuk menjamin kegiatan bantuan kemanusiaan dan logistik pemulihan awal dilakukan secara aman, cepat, dan tanpa hambatan, serta memfasilitasi pemulihan infrastruktur penting.
Para Menlu menekankan perlunya mempertahankan gencatan senjata dan menghentikan semua bentuk pelanggaran. Menurut Pernyataan tersebut, penentuan Jadwal merupakan sebagian yang tidak terpisahkan dari Rencana komprehensif dan menjadi kerangka pelaksanaan tahap kedua. Tahap ini mencakup mencakup perlucutan senjata secara bertahap yang berjalan sejajar dengan penarikan penuh pasukan Israel, penggelaran Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), penyerahan tanggung jawab pengelolaan seluruh Jalur Gaza kepada Komite Nasional Pengelola Gaza (NCAG), serta mengaktifkan kegiatan pemulihan awal dan rekonstruksi.





