Di sepanjang Sungai Gam yang tenang, terdapat dusun permukiman masyarakat etnis Tay yang damai, dengan rumah-rumah kayu tua dan kebun tanaman “gai” (rami) yang dirawat dengan cermat. Ketika daun rami sudah cukup matang, para perempuan etnis Tay memetiknya, menjemurnya hingga kering, lalu mengolahnya sebagai bahan utama untuk membuat kue Gai. Mereka juga pergi ke pegunungan untuk mengambil daun pisang liar yang berukuran lebar dan besar serta memiliki aroma lembut. Daun tersebut kemudian dicuci bersih, direbus hingga layu, dan dijemur sebelum digunakan untuk membungkus kue Gai. Cara inilah yang menghasilkan cita rasa khas yang sulit diperoleh jika menggunakan daun pisang biasa.
Di Chiem Hoa, untuk menghasilkan kue Gai yang lembut dan harum, diperlukan proses yang panjang dan penuh ketelitian. Sejak dini hari, para pembuat kue Gai harus menyalakan api dan merebus daun rami selama 4 - 5 jam hingga benar-benar lunak, kemudian mendiamkannya semalaman hingga warnanya berubah menjadi hitam pekat. Menurut resep yang diwariskan secara turun-temurun, semakin lama daun rami direbus, semakin kuat aroma dan cita rasa pada kulit kue Gai.
Selanjutnya, masih ada serangkaian tahapan yang dilakukan dengan teliti: mencuci daun hingga bersih, memerasnya hingga kering, menggilingnya hingga halus, kemudian dengan sabar menjaga tungku api selama sekitar 2 jam sambil terus mengaduk daun rami bersama gula agar aromanya semakin harum. Oleh karena itu, setiap kue Gai yang dihasilkan mencerminkan kerja keras dan keterampilan para perempuan Tay.
Keistimewaan kue Gai Chiem Hoa juga terletak pada bagian isiannya. Selain kacang hijau, kelapa parut, dan sedikit manisan bercita rasa lembut seperti yang digunakan di daerah lain, kue Gai Chiem Hoa memiliki resep khas yang unik, yaitu lemak babi yang dimarinasi dengan gula. Cara pengolahan yang cukup rumit ini biasanya hanya dilakukan untuk pesanan khusus dari masyarakat Tay. Lemak babi dipotong dadu kecil, kemudian direndam dalam gula selama tiga hari untuk mengurangi rasa berlemak sekaligus menghasilkan tekstur renyah yang unik. Meskipun saat ini sebagian besar penikmat kue Gai tetap menyukai isian tradisional yang ringan dan mudah disantap, lemak babi yang dimarinasi dengan gula tetap menjadi ciri khas kuliner yang melestarikan kreativitas masyarakat di wilayah Chiem Hoa. Ibu Nguyen Thi Thanh Hoa, sambil mengolah lemak babi, mengatakan: “Pertama-tama, kita harus memilih lemak babi hitam dari dusun. Lemak tersebut dipotong-potong, kemudian direbus sebentar hingga matang, lalu ditiriskan. Setelah itu, lemak direndam dengan gula selama hampir dua jam. Setelah gula meresap, lemak tersebut dijemur di bawah sinar matahari. Setelah sekitar satu hari, lemak akan menjadi bening dan menggumpal bersama gula seperti manisan. Jika kue Gai dimakan dengan isian lemak babi ini, rasanya akan lebih enak dan lebih autentik”.
Cara membungkus kue Gai di Chiem Hoa juga cukup unik, yaitu dibungkus secara berpasangan. Dua buah kue Gai dibungkus dalam satu lembar daun pisang. Ibu Mai Thi Loan, masyarakat Tay di Chiem Hoa yang telah berpengalaman membuat kue Gai selama bertahun-tahun, mengatakan:
“Sejak dahulu hingga sekarang, masyarakat Tay membuat kue Gai secara berpasangan karena daun pisang liar yang digunakan berukuran panjang. Saat dijual pun, kue Gai dijual secara berpasangan, tidak satu per satu. Jika ada pelanggan yang meminta satu buah saja, kami baru membuatnya satu per satu. Namun, kue Gai berpasangan memang sudah menjadi tradisi sejak dahulu.”
Dulu, masyarakat Tay di Chiem Hoa membuat kue Gai hanya untuk dipersembahkan kepada leluhur. Kini, kegiatan tersebut telah berkembang menjadi mata pencaharian yang ditekuni selama puluhan tahun oleh banyak keluarga. Berkat usaha tersebut, kehidupan ekonomi mereka semakin membaik. Keluarga Nguyen Van Thang dan Tran Thi Ha merupakan salah satu contohnya. Dengan mempertahankan kerajinan yang diwariskan oleh para leluhur, pasangan suami istri tersebut berhasil membangun rumah tiga lantai yang nyaman dan kokoh, serta menyekolahkan anak-anak mereka hingga berhasil meraih pendidikan yang baik.
“Membuat kue Gai adalah pekerjaan yang sangat melelahkan karena prosesnya terdiri dari banyak tahapan. Ada kalanya saya dan suami harus bangun sejak pukul satu dini hari dan bekerja hingga pagi. Dulu, sebelum membuat kue Gai, kehidupan kami sangat sulit. Namun, sejak menekuni usaha ini, kami sudah bisa membangun rumah dan membeli berbagai perlengkapan untuk kebutuhan sehari-hari.”
Dari setiap adonan kue Gai yang dikukus dan dijemur sepanjang malam agar siap dikirim dengan kendaraan pada pagi hari untuk dipasarkan ke berbagai provinsi, masyarakat Tay tidak hanya menjaga sepenuhnya resep dan teknik tradisional yang diwariskan oleh leluhur, tetapi juga berhasil membangun kehidupan yang semakin sejahtera. Selain kue Gai, masyarakat Tay saat ini juga membuat kue Gac (tepurang) dan kue Củ chuối (rimpang pisang), kudapan sederhana yang menemani para wisatawan ke berbagai daerah, sekaligus menjadi cita rasa yang mengingatkan mereka pada bumi yang damai dan ramah di sepanjang Sungai Gam.








