Dalam pernyataannya, lembaga tersebut menekankan bahwa semua kapal yang ingin melintasi Hormuz, baik kapal komersial maupun kapal tanker minyak, harus mematuhi rute yang ditetapkan oleh Iran dan harus mendapatkan izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Komando Pusat Khatam al-Anbiya juga memperingatkan akan membalas setiap tindakan kapal militer asing yang bertujuan mencampuri urusan pengelolaan Selat Hormuz atau menghalangi lalu lintas di wilayah tersebut. Pada hari yang sama, Iran memperingatkan dapat menarik diri dari kesepakatan yang sedang dinegosiasikan dengan Amerika Serikat, jika Washington tidak mencabut blokade angkatan laut dan mencairkan aset-aset Tehran yang dibekukan di luar negeri.

Berbicara di saluran televisi pemerintah Iran, Saeed Ajorlou, anggota Komite Komunikasi delegasi perunding Iran, mengonfirmasi bahwa Tehran belum menyetujui draf akhir kesepakatan tersebut, meskipun perbedaan antara kedua belah pihak saat ini tidak lagi signifikan.

Juga pada tgl 30/5, Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa Washington tetap mempertahankan kemampuannya untuk melanjutkan kembali operasi militer jika diperlukan, sekaligus menekankan bahwa setiap kesepakatan harus memenuhi tuntutan Amerika Serikat, termasuk penghentian permanen program senjata nuklir oleh Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan penerimaan atas mekanisme verifikasi. Sementara itu, Tehran menegaskan belum ada kesepakatan akhir apa pun yang disetujui dan masih banyak isu yang perlu terus dinegosiasikan.