Sejak turun-temurun, setiap bulan ke-6, ke-8, atau ke-10 (menurut penanggalan Cham), masyarakat etnis Cham penganut Islam Bani menyelenggarakan upacara Kareh - Katal, yaitu upacara kedewasaan yang juga dikenal sebagai upacara inisiasi agama bagi remaja putri dan putra yang mulai menginjak usia 15 tahun. Ini adalah salah satu ritual terpenting dalam kehidupan masyarakat Cham penganut Islam Bani.

Pada kesempatan ini, tuan rumah mengundang seluruh warga desa untuk hadir dan menyaksikan momen ketika sang putra dan putri diakui oleh para dewa sebagai orang dewasa. Bergantung pada kondisi ekonomi masing-masing, setiap keluarga dapat menyelenggarakan upacara kedewasaan ini dalam skala besar maupun kecil. Biasanya, pihak keluarga harus menyiapkan satu sisir pisang, satu nampan beras ketan berondong, dan seekor ayam jago untuk setiap anak sebagai persembahan kepada dewa. Pada saat senja, para remaja putra dan putri berkumpul di lokasi upacara.

Keesokan paginya, saat matahari baru terbit, para wali atau orang tua angkat dari para remaja tersebut secara bergiliran membimbing mereka turun ke sungai untuk mandi penyucian. Ini merupakan tahapan penting dalam prosesi upacara kedewasaan. Masyarakat Cham meyakini bahwa aliran sungai akan membasuh segala kotoran duniawi, menyucikan segala dosa, dan mengembalikan kemurnian pada diri manusia.

Sebelum melaksanakan ritual utama, dilangsungkan upacara “mbang Aluah”, yaitu ritual pemberitahuan kepada Po Nabi (dewa suci) bahwa ada keluarga yang sedang menyelenggarakan upacara kedewasaan untuk anak cucunya. Pada hari puncak perayaan utama, pagi-pagi sekali beberapa tetua akan membawa anak-anak tersebut untuk mandi keramas. Setelah penyucian di sungai, para remaja putra dan putri secara bergiliran dibawa kembali ke tempat upacara utama. Di sinilah, para pemimpin upacara secara resmi memberikan nama kepada mereka yang menginjak usia dewasa pada periode ini. Nama yang diberikan diambil dari nama dewa-dewa pelindung. Nama itulah yang nantinya akan digunakan oleh orang tersebut ketika meninggal dunia, hingga di alam baka. Selanjutnya adalah pelaksanaan resmi ritual "khitan" (sirkumsisi) bagi laki-laki. Namun, saat ini, ritual tersebut hanya dilakukan secara simbolis bagi kaum pria. Sedangkan bagi perempuan, dilakukan ritual pemotongan poni rambut sebagai sumpah untuk tidak melakukan perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama.

Selama prosesi ritual utama berlangsung, seseorang akan menggendong seorang bayi laki-laki berusia sekitar 8 bulan hingga 1 tahun yang merupakan anak cucu dari keluarga atau klan penyelenggara upacara, yang disebut sebagai “Anek Po La Dhi”, untuk diikutsertakan dalam ritual. Bapak Imem Ket, seorang warga di Desa Bac Binh, Provinsi Lam Dong, menjelaskan bahwa karena setiap manusia pada awalnya berada di dalam rahim ibu sebelum dilahirkan, maka upacara harus dilakukan terlebih dahulu untuk bayi ini.

"Kehadiran anak ini adalah wajib, karena sudah menjadi adat istiadat peninggalan leluhur kita sejak zaman dahulu. Anak tersebut haruslah seorang bayi laki-laki, tidak boleh perempuan, berusia sekitar 7 hingga 8 bulan. Bayi itu juga harus dikenakan pakaian yang sesuai dengan ketentuan agama. Biasanya, kami harus mencari bayi laki-laki dari dalam klan sendiri; hanya dalam keadaan mendesak barulah kami meminta bantuan dari keturunan di luar klan."

Meskipun berbagai ritus dan adat istiadat masih dipertahankan dalam pelaksanaan upacara Kareh - Katal, dibandingkan dengan masa lalu, telah terjadi kemajuan, terutama dalam hal efisiensi waktu pelaksanaannya. Lu Van Xuong, seorang warga di Kecamatan Bac Binh, Provinsi Lam Dong, menuturkan:

"Dulu, orang-orang yang berpartisipasi dalam upacara Kareh - Katal ini harus menguras kolam untuk menangkap ikan, serta masuk ke hutan untuk menebang kayu bakar sebagai persiapan upacara. Setelah upacara selesai, mereka masih harus tinggal untuk melayani tuan rumah selama 7 hingga 10 hari. Dari awal hingga akhir, upacara ini memakan waktu hampir setengah bulan, tetapi kini telah dipersingkat menjadi 3 hari saja, sekarang sudah lebih praktis dan maju."

Sebagai penutup upacara, pihak keluarga mengundang warga desa yang hadir, untuk menyantap jamuan makan penuh keakraban. Para remaja putri dan putra dalam upacara kedewasaan ini menerima hadiah dan ucapan selamat dari warga serta kerabat. Sejak saat itu, para remaja tersebut telah resmi menjadi penganut Islam Bani dan menjadi anggota penuh dalam klan mereka./.