Sebagai negara produsen monyak terbesar ketujuh di dunia, pengumuman resmi UEA ini menarik perhatian besar keanggotaannya selama setelah lebih dari 5 dekade. Keputusan ini berlaku pada 1 Mei. Sementara itu, UEA juga menarik diri dari kewajiban dalam kerangka alinasi OPEC+ yang termasuk negara-negara anggota non-OPEC yang dipimpim Rusia.
Menteri AI Mazrouer menekankan ini adalah keputusan yang telah dipertimbangkan secara teliti, bertolak dari visi strategis dan ekonomi jangka panjang, dan sama sekali tidak memiliki implikasi politik apa pun. Ia menyatakan bahwa saat ini menjadi saat yang tepat karena dampaknya terhadap harga minyak dan para produsen lain, khususnya mitra OPEC+ dinilai sangat rendah.
Penarikan diri dari OPEC diharapkan dapat memberikan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang lebih baik kepada UEA dalam mengelola pasar minyak, khususnya dalam konteks menurunnya sumber pasokan energi global akibat konflik AS-Israel dan Iran. Langkah ini juga menjadi bagian dalam rencana nasional yang menuju strategi ekonomi baru yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada blok aliansi mana pun.







