Satu poin baru yang menonjol dalam Resolusi tersebut yaitu MN langsung menempatkan target pertumbuhan bagi setiap daerah. Ini merupakan perubahan signifikan dalam pola pikir penyelenggaraan ekonomi makro, yang bertujuan meningkatkan sikap proaktif dan tanggung jawab serta menciptakan motor penggerak bagi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di tanah air.
Penetapan target pertumbuhan secara langsung bagi setiap daerah menciptakan pergeseran kuat dalam pola pikir manajemen, menuju efisiensi dan tanggung jawab yang lebih konkret. Setiap provinsi dan kota harus menetapkan dengan jelas peran, keunggulan dan potensi pertumbuhannya, sehingga turut meningkatkan sikap proaktif dan kreativitas dalam penyelenggaraan. Pham Nam Tien, anggota Komisi Sosial-Budaya MN Vietnam menuturkan:
“Penetapan target pertumbuhan oleh MN bagi setiap daerah akan mendorong berbagai provinsi dan kota untuk aktif menyusun skenario pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan keunggulan masing-masing. Ini menjadi solusi terobosan untuk meningkatkan sikap proaktif dan tanggung jawab sekaligus menciptakan motor penggerak perkembangan, serta meningkatkan tanggung jawab setiap Kepala daerah”.
Kota Hanoi yang berperan sebagai lokomotif ekonomi nasional, telah menyusun Proyek Model Pertumbuhan Baru Ibu Kota guna mencapai target PDRB-Produk Domestik Regional Bruto (GRDP) tahun 2026 sebesar 10 hingga 10,5 persen dan 10,5 hingga 11 persen untuk periode 2026-2030. Vu Dai Thang, Ketua Komite Rakyat Kota Hanoi menuturkan:
“Kota Hanoi tetap teguh pada target pertumbuhan dua digit, serta menganggapnya sebagai amanat, kehormatan, dan tanggung jawab kota di hadapan Organisasi Partai dan masyarakat Ibu Kota. Kota Hanoi akan menyusun Resolusi berdasarkan alokasi tanggung jawab yang jelas kepada berbagai instansi dan daerah untuk memastikan pemantauan, pemeriksaan, dan pengendalian yang efektif”.
Sementara itu, dengan target pertumbuhan sebesar 10 persen yang ditetapkan untuk sepanjang tahun 2026 dan periode 2026-2030, Kota Ho Chi Minh telah memberlakukan Rencana dorongan pertumbuhan dua digit. Rencana ini berfokus pada tiga motor penggerak utama, yaitu: investasi, konsumsi dan ekspor, serta mengembangkan berbagai motor penggerak baru seperti: sains-teknologi, inovasi kreatif dan transformasi digital. Selain itu, Kota Ho Chi Minh juga menetapkan tanggung jawab secara jelas berdasarkan target kuantitatif bulanan dan triwulanan, dan mendefinisikan secara jelas tanggung jawab para kepaladaerah. Nguyen Loc Ha, Wakil Harian Ketua Komite Rakyat Kota Ho Chi Minh menegaskan:
“Untuk mewujudkan target-target besar tersebut, kalangan pejabat harus mengubah pola perilaku, serta mencapai keberhasilan yang konkret dan terukur. Tahun 2026 menjadi tahun percepatan. Beban yang dipikul memang besar, namun ini adalah peluang emas untuk menegaskan peran Kota Ho Chi Minh sebagai lokomotif ekonomi, sekaligus membawanya lebih dekat pada target sebagai kota yang layak huni dan semakin meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat”.
Penetapan target tidak hanya dikuantifikasikan ke dalam angka-angka konkret yang dikaitkan dengan tanggung jawab pelaksanaan di setiap tingkatan dan instansi. Hal yang lebih penting adalah menciptakan konektivitas dan efek tular antar-pusat pertumbuhan. Saat sebuah kawasan melesat, perkembangan tersebut akan diikuti oleh kawasan-kawasan sekitarnya sehingga menciptakan daya sebar yang positif di seluruh perekonomian. Profesor muda, Doktor Tran Dinh Thien, mantan Kepala Institut Penelitian Ekonomi Pusat menuturkan:
“Di tengah perekonomian yang sedang bergerak dalam tren pertumbuhan pesat, berbagai motor penggerak pertumbuhan tidak berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi. Setiap faktor berkontribusi pada keseluruhan dan sebaliknya, keseluruhan itulah yang memfasilitasi berbagai bidang dan sektor prioritas untuk berakselerasi secara lebih pesat dan lebih efektif”.
Dalam konteks berbagai motor penggerak tradisional yang secara bertahap mulai jenuh, pembentukan sebuah mekanisme “kompetisi pembangunan” antardaerah dapat menjadi stimulus penting. Ketika tanggung jawab dikuantifikasikan, dan keberhasilan diukur secara transparan, beban akan berubah menjadi motor penggerak reformasi. Jika berbagai daerah tidak hanya “berlari cepat”, tetapi juga “berlari bersama” melalui konektivitas dan koordinasi efektif, maka target pertumbuhan dua digit tidak lagi sekadar aspirasi kebijakan, melainkan menjadi keberhasilan nyata dari sebuah sistem ekonomi yang berjalan secara sinkron dan modern.








