Di tengah hiruk-pikuk dan modernitas kehidupan di beberapa kecamatan pusat Provinsi Ca Mau (sebelumnya Kota Ca Mau), terdapat warung-warung kecil yang telah bertahan selama puluhan tahun, membangkitkan kenangan akan masa yang telah berlalu. Tempat-tempat ini menjadi pelabuhan bagi para lansia untuk mengenang masa kecil mereka, bagi kaum muda untuk menemukan kembali aroma masa lalu, dan bagi para perantau untuk meresapi kembali cita rasa akrab dari kampung halaman. Berikut ini, penyiar…….akan menyampaikan reportase dengan judul : “Sudut Masa Lalu di Warung Kecil”
Terletak di ujung sebuah gang kecil di Kecamatan 2, menghadap ke Sungai Ca Mau, warung es kacang (Đá đậu) milik Bapak Du selalu ramai dikunjungi pelanggan. Pemilik warung ini adalah dua wanita yang usianya mendekati 70 tahun, dengan rambut yang telah memutih namun memiliki tangan yang masih cekatan meracik setiap gelas es kacang untuk pelanggan. Mereka adalah dua adik perempuan dari Bapak Du, yang melanjutkan usaha gerobak es kacang kayu milik kakak laki-laki mereka, demi menjaga cita rasa akrab perpaduan berbagai jenis kacang dan es serut bagi penduduk Ca Mau maupun wisatawan. Ngo Thi Yen, pemilik warung es kacang tersebut, menuturkan:
"Dulu, kakak laki-laki saya dan ibu yang berjualan. Sekarang ibu sudah tiada. Kakak saya jatuh sakit dan berhenti sepenuhnya. Kini giliran kami berdua (kakak beradik). Kami sudah berjualan selama 54 tahun. Kacang hijau, kacang merah, tapioka, nanas, pisang—bagi pelanggan yang memesan es campur, kami masukkan semuanya ke dalam gelas."
Banyak warga Ca Mau menyebut es kacang ini sebagai sajian kenangan masa kecil. Tempat ini merupakan alamat yang tak asing lagi/akrab bagi banyak orang, mengingatkan pada hari-hari ketika mereka diberi uang saku oleh ibu mereka untuk mampir dan menikmati segelas es kacang yang manis dan menyegarkan. Truong Thi Tu Trinh membagikan kisahnya:
"Hari ini saya pulang kampung, dan saya memilih warung ini karena suasananya yang tenang dan saya ingin menatap ke arah sungai. Saya tahu warung ini karena saat SMP dulu, sewaktu masih kecil, saya sering datang ke sini bersama teman-teman. Jadi, sekarang saat pulang kampung dari kuliah di Saigon (Kota Ho Chi Minh sekarang), saya pasti menyempatkan diri untuk mampir."
Warung ini memiliki ruang terbuka yang menghadap ke Sungai Ca Mau, menyuguhkan pemandangan perahu-perahu kecil dan sampan yang berlalu-lalang. Di kejauhan, tampak hiruk pikuk Pasar Ca Mau, membangkitkan kembali pemandangan kehidupan masyarakat wilayah Barat (Delta Mekong) beberapa dekade silam. Warung es kacang ini sering direkomendasikan oleh banyak anak muda Ca Mau, bahkan oleh para tokoh terkenal di media sosial. Oleh karena itu, semakin banyak orang dari jauh datang untuk mencicipi cita rasa tradisional sekaligus menikmati pemandangan khas yang sarat akan jejak masa lalu ini.
Di sebuah warung kecil yang terletak di tepi Sungai Ca Mau, tepatnya di kawasan Kecamatan An Xuyen, setiap sore ketika terik matahari mulai mereda, seorang wanita kembali menyiapkan peralatannya untuk mulai membuat “bánh cống” (kue udang goreng khas Vietnam). Di Ca Mau terdapat banyak warung “bánh cống”, dan masing-masing memiliki keakraban serta cerita tersendiri yang berkaitan dengan kehidupan warga sekitarnya. Di sini, orang-orang tidak memanggil sang pemilik warung dengan nama aslinya, melainkan memanggilnya "Ibu Bánh Cống", sosok yang menyajikan hidangan lezat setiap sore. Hoang Thi Khiem menuturkan:
"Saya sudah berjualan selama 35 tahun. Kue ini dulunya dijual oleh ibu saya, lalu saya melanjutkannya. Bahannya hanya tepung beras dan tepung ketan. Kacang hijau dan daging digoreng bersama adonan kuenya. Saya berjualan dari tahun 90-an sampai sekarang. Keuntungannya memang tidak seberapa, tetapi cukup untuk membiayai hidup sehari-hari."
“Bánh cống”, atau yang juga dikenal sebagai “bánh cóng”, adalah hidangan khas masyarakat etnis Khmer di wilayah Selatan. Kue ini memiliki kulit tepung yang renyah, berpadu dengan isian kacang hijau, daging, dan udang. Kue ini merupakan hidangan yang sangat memikat bagi para wisatawan saat berkunjung ke wilayah Barat. Sedangkan bagi warga Ca Mau, seperti Vuong Thi Bich Tram, setiap kali mengambil cuti dari Kota Ho Chi Minh untuk pulang ke kampung halaman, ia selalu menyempatkan diri datang ke warung Ibu Bánh Cống demi menikmati cita rasa yang akrab tersebut.
"Bánh cống buatan bibi ini sudah dijual sejak lama sekali. Di sini, saya sangat suka kuenya karena isian kacang hijaunya melimpah, rasanya sangat gurih dan kaya mantap. Saat dimakan bersama sayuran mentah dan dicelupkan ke dalam saus kecap ikan yang rasanya sangat pas, tidak terlalu asin maupun terlalu hambar—semuanya menyatu dengan sempurna. Rasanya benar-benar luar biasa."
Tidak jauh dari warung “bánh cống”, yang juga masih berada di wilayah Kecamatan An Xuyen, terdapat sebuah warung es krim pisang yang selalu dipadati pelanggan, terutama kalangan anak muda. Dari luar, warung ini tampak megah dan baru, namun di sinilah tersimpan hidangan-hidangan yang telah eksis selama puluhan tahun. Pham Thi My Hoa, sang pemilik warung, mengungkapkan:
"Warung ini sudah beroperasi selama 40 tahun. Kami menjual hidangan-hidangan tradisional. Ini adalah resep rahasia warisan ibu saya. Bahan dasar es krim pisang ini adalah tepung, pisang, dan santan kelapa. Ibu saya juga sudah membuat hidangan es krim pisang ini selama 40 tahun hingga sekarang."
Ca Mau merupakan wilayah dengan lahan perkebunan pisang yang sangat luas di wilayah Barat. Dari buah pisang yang harum dan lezat, penduduk setempat telah menciptakan es krim pedesaan/tradisional yang membawa cita rasa khas daerah aliran sungai. Perpaduan antara manisnya pisang siam matang dengan gurihnya santan kelapa dan kacang tanah, menjadikannya hidangan penyegar yang sangat cocok untuk cuaca panas terik di tanah Barat Daya.
Setiap warung kecil di Ca Mau seakan menyimpan ceritanya tersendiri secara turun temurun. Datang ke sana, pengunjung tidak hanya disuguhi hidangan dengan cita rasa khas yang otentik, tetapi juga seolah dibawa kembali ke dalam suasana yang bersahaja, damai, serta ritme kehidupan yang santai khas wilayah Barat di masa lampau







