Dulu, Sapa (Provinsi Lao Cai) dikenal sebagai tujuan wisata untuk kunjungan singkat, pada beberapa tahun belakangan ini, daerah ini semakin menegaskan posisinya sebagai pusat rekreasi sepanjang tahun yang menarik kedatangan wisatawan domestik (Wisdom) dan wisatawan mancanegara (Wisman), di antaranya wisatawan Indonesia.
Tidak hanya tertarik karena iklim yang sejuk sepanjang tahun, wisatawan juga terpesona dengan kemegahan alam dan ciri budaya lokal yang unik. Wisatawan Indonesia bisasanya berkumpul di Lapangan Sapa, memulai perjalanan menjelajahi "kota embun".
Meskipun mayoritas masyarakat Indonesia beragama Muslim, tetapi Gereja Batu Sapa selalu meninggalkan kesan bagi mereka. Gereja ini dibangun oleh Perhimpunan Misi Paris (Prancis) pada tahun 1926 (setelah Paroki Sapa dibentuk pada tahun 1902) dan diselesaikan pada tahun 1935.
Dengan area luasnya 6.000 meter persegi, Gereja ini terdiri dari 7 ruangan, masing-masing seluas 500 meter persegi dan dirancang dengan 32 jendela kaca yang berwarna khas dan atap kubah yang unik.
Terletak di provinsi pegunungan di Tay Bac (Barat Laut), Vietnam Utara, Sapa selalu memberikan kenyamanan dan fasilitas kepada wisatawan dengan kompleks wisata yang modern seperti: Gedung Sun Plaza yang terletak di persimpangan pusat Sapa, di seberang Lapangan. Sun Plaza Sapa dibangun oleh Sun Group dan diselesaikan pada tahun 2018. Gedung ini dirancang dengan gaya arsitektur klasik Eropa.
Di sini, wisatawan dapat menikmati beragam aktivitas seperti: Check-in foto, bersantai, belanja, menikmati kulier, minum kopi, dan naik kereta api yang mendaki gunung Muong Hoa.
Datang ke Sapa, wisatawan dapat menguak-tabir pasar tradisional. Pasar Sapa atau disebut sebagai Pasar pusat Sapa dibangun dan dioperasikan sejak tahun 2015. Saat ini, pasar Sapa menjadi pusat pembelanjaan untuk wisatawan dengan beragam suvenir seperti kain brokat tradisional dari masyarakat etnis Dao dan Mong, pakaian, sepatu, manisan dan produk lokal.
Selain itu, wisatawan berpeluang menikmati keindahan alam dan nilai budaya lokal yang sudah ada sejak lama. Desa Cat Cat adalah "museum hidup" itu.
Terletak jauhnya sekitar 2 Km dari jantungnya Sapa, Desa Cat Cat merupakan salah satu persinggahan yang tidak boleh dilewatkan dalam perjalanan menguak-tabirkan budaya lokal. Ini merupakan tempat tinggal lama dari komunitas masyarakat etnis minoritas Mong hitam yang terkenal dengan rumah-rumah kaya tradisional dan jalan-jalan berbatu yang berkelok-kelok di tengah ladang bunga yang bersemarak.
Datang ke Desa Cat Cat, wisatawan tidak hanya dapat menikmati keindahan alam yang sederhana, tetapi juga berpeluang mencari tahu tentang kehidupan budaya dari masyarakat etnis minoritas Mong.
Secara khusus, wisatawan dapat mengenakan pakaian tradisional dari etnis minoritas, berfoto di air terjun Cat Cat yang puitis atau berfoto di samping kincir air kuno yang terletak di pinggir aliran anak sungai.
Dan perjalanan menjelajahi Sapa akan tidak sempurna apabila wisatawan belum menaklukkan "Atap Indochina" - Puncak Fansipan. Dengan ketinggian 3.143 meter dari permukaan air laut, Puncak Fansipan terletak di Gunung Hoang Lien Son, jauhnya sekitar 9 Km dari jantungnya Sapa ke sebelah Barat Daya.
Dulu untuk menaklukkan puncak Fansipan harus memakan dua setengah hari dan perjalanan itu hanya diperuntukkan para petualang. Kini sudah diperpendek hanya 15 menik naik cable car. Cable car dengan tiga kabel yang terpanjang di dunia ini dibangun dan dioperasikan oleh Sun Grup sejak tahun 2016.
Waktu ideal untuk menaklukkan "Atap Indocina" adalah dari bulan September hingga April tahun berikutnya. Wisatawan dapat menikmati lautan awan dan berfoto di tengah alam yang megah.
Waktu dari akhir Desember hingga akhir Januari tahun berikutnya, Fansipan sering sekali diselimuti embun beku.
Secara khusus, wisatawan dapat menghadiri Upacara Pengibaran Bendera Nasional di Puncak Fansipan - momen yang khidmat, membangkitkan rasa bangga dan harga diri nasional bangsa Vietnam.








