“Jika berbicara mengenai kebijakan Vietnam saat ini, saya melihat ada kesamaan dengan Thailand. Kita tidak menginginkan investor yang hanya datang untuk berinvestasi tanpa memperhatikan lingkungan atau mematuhi peraturan. Khususnya di Vietnam, Thailand, dan ASEAN, FDI merupakan mekanisme sekaligus instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan.”

Demikian ditegaskan oleh Supa Waisayarat, Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Direktur Negara Perusahaan Super Energy di Vietnam, dan juga Ketua Kelompok Perusahaan Energi Thailand di Vietnam yang beranggotakan sekitar 20 perusahaan. Ia mengatakan bahwa Super Energy maupun perusahaan-perusahaan Thailand lainnya berupaya melatih tenaga kerja Vietnam agar mereka dapat menjalankan pekerjaan di perusahaan. Saat ini, di Super Energy hanya tersisa sekitar dua orang manajer asal Thailand, padahal pada awalnya jumlahnya mencapai puluhan orang. Jumlah tenaga kerja Thailand dikurangi agar orang Vietnam dapat mengelola perusahaan secara mandiri. Ke depan, perusahaan induk dapat mengurusi kebijakan dan investasi, sementara kegiatan operasional dapat dijalankan oleh karyawan di Vietnam.

Selain itu, berdasarkan pengalaman bekerja dengan banyak perusahaan di Vietnam, Super Energy melihat bahwa para insinyur Vietnam memiliki keunggulan di sektor perangkat lunak dan pengembangan perangkat lunak. Oleh karena itu, selain menggunakan perangkat lunak dari luar negeri, perusahaan ini juga menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh para insinyur Vietnam.

“Ini seperti sebuah proses pertukaran pengetahuan. Bukan hanya Thailand yang memberi dan Vietnam yang menerima, tetapi Vietnam juga sedang mengembangkan berbagai perangkat lunak yang cukup baik. Saat ini, para insinyur dan perusahaan Vietnam juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Thailand untuk mengembangkan perangkat lunak, misalnya sistem SCADA dan Power Control System.”

Tidak hanya di sektor sumber daya manusia dan teknologi, menurut Supa Waisayarat, Vietnam memiliki lebih banyak peluang untuk berpartisipasi lebih mendalam pada rantai produksi dan pasokan peralatan bagi sektor energi. Vietnam dapat memproduksi sendiri sejumlah jenis peralatan, seperti kabel listrik, struktur baja dan berbagai peralatan lainnya untuk proyek pembangkit listrik tenaga angin darat maupun lepas pantai. Berdasarkan perkembangan di Super Energy, Supa Waisayarat berharap agar kerja sama antara perusahaan Thailand dan Vietnam di sektor energi dan teknologi akan semakin erat dan efektif:

“Ke depan, Vietnam akan terus memiliki kebutuhan energi yang cukup besar, sekaligus berpotensi mengembangkan energi hijau. Di Thailand, Super Energy telah mengembangkan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS) selama beberapa tahun terakhir dan telah mengoperasikannya secara komersial. Inilah cara baterai digunakan untuk menyimpan listrik dan memasoknya ke sistem pada saat kebutuhan listrik tinggi. Saya yakin Vietnam juga akan bergerak ke arah ini.”

Kegiatan nyata Super Energy di Vietnam menunjukkan bahwa hubungan kerja sama investasi Vietnam–Thailand tengah mengalami perubahan baru. Perusahaan-perusahaan Thailand tidak hanya menanamkan modal di Vietnam, tetapi juga semakin memperhatikan pelatihan sumber daya manusia, transfer pengalaman, penggunaan produk dan solusi yang dikembangkan oleh perusahaan dan para insinyur Vietnam sendiri, sekaligus memperluas konektivitas dengan mitra-mitra dalam negeri. Hal tersebut juga menjadi arah bagi kerja sama Vietnam-Thailand di sektor energi dan teknologi agar semakin mendalam, substansial dan berkelanjutan.