Pertemuan puncak AS-Tiongkok pada 24 September di Washington D.C. menandai pertemuan tatap muka kedua antara para pemimpin AS dan Tiongkok dalam waktu kurang dari enam bulan, setelah pertemuan puncak di Beijing pada bulan Mei. Pertemuan ini juga menandai kunjungan pertama Presiden Tiongkok Xi Jinping ke AS setelah 11 tahun.
Stabilitas Strategis
Pertemuan antara para pemimpin dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut telah menarik perhatian sejak rangkaian protokol penyambutan sebelum pertemuan dimulai. Pada 23 September, Presiden AS Donald Trump bahkan secara langsung ke kaki tangga pesawat untuk menyambut Presiden Tiongkok Xi Jinping di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, negara bagian Maryland. Ini merupakan bentuk penyambutan diplomatik yang tergolong langka dalam sejarah para Presiden AS. Presiden Tiongkok Xi Jinping kemudian kembali disambut dengan pertunjukan udara yang spektakuler serta jamuan makan malam kenegaraan khusus di Gedung Putih.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Rabu sore (24 September), waktu setempat, di AS, baik Presiden AS Donald Trump maupun Presiden Tiongkok Xi Jinping sama-sama menekankan pentingnya stabilitas strategis.
Presiden Xi Jinping menegaskan bahwa AS dan Tiongkok merupakan dua bangsa besar. Menurutnya, tujuan strategis kedua negara, yaitu “mewujudkan kebangkitan besar bangsa Tiongkok” dan “membuat AS kembali hebat”, sama sekali tidak bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi. Oleh karena itu, AS dan Tiongkok perlu mengarah pada prinsip hidup berdampingan secara damai serta membangun semua mekanisme yang diperlukan untuk menghindari “jebakan Thucydides”, istilah geopolitik yang sebelumnya juga ia sebut dalam pertemuan dengan Presiden Trump pada Mei lalu di Beijing.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memuji Presiden Xi Jinping sebagai “sahabat besar” dan menyatakan bahwa AS dan Tiongkok memiliki lebih banyak potensi untuk bekerja sama daripada berkonfrontasi: “Jika kita memusatkan perhatian pada kepentingan bersama, saya yakin kita dapat mencapai banyak hal besar. Upaya mengejar kepentingan bersama tersebut telah mengikat rakyat kedua negara, meskipun dipisahkan oleh lautan yang luas, jarak geografis yang jauh, serta berbagai perbedaan. Bahkan, hal tersebut telah membawa kita menjadi sekutu dalam Perang Dunia II”.
Kedua pemimpin AS dan Tiongkok juga membahas berbagai isu mendesak yang berkaitan dengan keamanan, teknologi, dan superinteligensi (SI) - istilah yang digunakan Presiden AS untuk menyebut kecerdasan buatan (AI). Presiden Trump menegaskan bahwa keputusan yang diambil kedua pihak dalam bidang-bidang tersebut saat ini dapat mendorong perdamaian dan kemakmuran selama beberapa dekade mendatang.
Sementara itu, Presiden Xi Jinping juga secara singkat menyinggung AI dan mencatat bahwa kedua negara merupakan “negara-negara terdepan” dalam bidang tersebut. Oleh karena itu, kedua pihak memiliki kapasitas sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi tujuan kebaikan, serta memastikan bahwa perkembangan AI selalu berada di bawah kendali manusia dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Sinyal Positif
Prioritas untuk menjaga stabilitas hubungan juga tercermin dari sejumlah kesepakatan penting yang sebelumnya dicapai oleh AS dan Tiongkok, meskipun belum bersifat terobosan besar. Salah satu yang paling menonjol adalah kesepakatan kedua pihak untuk memperpanjang kesepakatan mengenai gencatan perdagangan pada 23 September.
Menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, AS dan Tiongkok sepakat memperpanjang Kesepakatan Busan selama dua bulan, yaitu kesepakatan untuk meredakan ketegangan antara kedua negara yang dicapai tahun lalu di Busan, Republik Korea. Dengan perpanjangan tersebut, masa berlaku kesepakatan yang semula dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026 kini diperpanjang hingga 10 Januari 2027.
Meskipun perpanjangan selama dua bulan ini lebih singkat dibandingkan ekspektasi sebagian besar pengamat yang memperkirakan durasi enam bulan, para pakar menilai langkah tersebut tetap memiliki makna positif. Ruby Osman, Penasihat Senior bidang geopolitik Tiongkok di Institut Tony Blair mengenai Perubahan Global, menilai:“Saya tidak menganggap ini sebagai kesepakatan gencatan senjata yang akan menyelesaikan semua persoalan dalam hubungan kedua negara. Namun, saya percaya bahwa keinginan kedua pihak untuk mencapai kesepakatan tersebut – meskipun belum sempurna – menunjukkan bahwa mereka menyadari besarnya kerugian yang dapat ditimbulkan satu sama lain. Kita benar-benar melihat hal tersebut ketika perang tarif mencapai titik ketegangan tertinggi tahun lalu, dan saya kira setidaknya dalam jangka pendek, tidak ada pihak yang benar-benar ingin memicu kembali perang tarif tersebut”.
Terkait isu AI, kedua pihak juga telah semakin mendekati kesepakatan untuk membentuk “Dialog AI AS-Tiongkok”. Mekanisme ini dirancang untuk membangun saluran komunikasi antara kedua negara mengenai potensi insiden yang berkaitan dengan AI, terutama situasi yang dapat mengancam keamanan nasional.
Secara keseluruhan, Pertemuan Puncak AS-Tiongkok kali ini tidak menghasilkan terobosan besar, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya oleh para pengamat. Namun, fakta bahwa kedua pihak tetap memprioritaskan stabilitas hubungan dan berupaya mencapai berbagai kesepakatan merupakan sinyal positif bagi hubungan AS-Tiongkok secara khusus, serta bagi lanskap geopolitik dan perekonomian dunia secara umum. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan dapat kembali bertemu pada November mendatang, saat Tiongkok menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), serta pada Desember, saat Konferensi Tingkat Tinggi G20 digelar di Miami, Amerika Serikat.








