Suara deru mesin jahit dan gunting pemotong kain terdengar bersahut-sahutan di ruang bengkel yang bersahaja ini. Di sinilah, para pekerja begitu tekun menyelesaikan setiap jahitan. Masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, namun di sini mereka menemukan kebahagiaan dalam pekerjaan serta rasa saling berbagi dengan sesama yang memiliki nasib serupa.

Guru yang setiap hari dengan penuh ketulusan mengajar keterampilan kepada para peserta didik istimewa ini, rupanya juga hidup dengan berbagai keterbatasan fisik. Ia memahami betul rasa rendah diri yang dialami penyandang disabilitas. Karena itu, ia berharap tidak hanya dirinya yang dapat mandiri, tetapi juga dapat membantu orang lain untuk bangkit dalam kehidupan. Bapak Pham Quang Khoi berbagi: “Setelah bertugas di Vietnam Selatan, saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan menjadi penyandang disabilitas, sehingga sangat sulit dalam beraktivitas sehari-hari. Saya memiliki keahlian dalam mengajar keterampilan menjahit dengan mesin jahit industri, sehingga saya mendirikan bengkel jahit bendera dengan konsep belajar sambil bekerja untuk menciptakan lapangan kerja bagi sesama penyandang disabilitas. Saya ingin menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi penyandang disabilitas dengan berbagai jenis pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing orang.

Pada tahun 2008, Bapak Khoi mendirikan Bengkel Jahit Bendera 3/12. Pada masa-masa awal pendiriannya, bengkel ini menghadapi banyak kesulitan, namun beruntung keluarganya selalu memberikan dukungan penuh. Kebersamaan tersebut telah menambahkan kepercayaan diri dan semangat bagi Bapak Khoi untuk terus tekun menjalankan pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Bapak Pham Quang Khoi mengatakan: “Tantangan terbesar adalah harus mengajarkan keterampilan terlebih dahulu sebelum dapat menciptakan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas. Saya harus melakukan penelitian, mencari berbagai metode pengajaran, serta menyesuaikan peralatan mesin. Karena setiap peserta didik memiliki jenis disabilitas yang berbeda, saya pun menemukan metode pelatihan yang berbeda untuk masing-masing orang”.

Hingga Januari 2021, seiring tuntutan integrasi dan perkembangan zaman, Bapak Khoi melangkah lebih maju dengan mendirikan Perusahaan Perseroan Terbatas Sosial 3/12. Dengan status badan hukum, stempel, dan faktur sendiri, perusahaannya kini semakin stabil dan profesional dalam beroperasi. Hal ini turut memperluas skala produksi, sekaligus menciptakan lebih banyak peluang kerja bagi penyandang disabilitas.

Ketulusan hati seorang guru tidak hanya tercermin dari caranya mengajarkan keterampilan, tetapi juga dari upayanya menciptakan lingkungan yang nyaman agar para peserta didik dapat bekerja dengan tenang. Di bengkel tersebut, para peserta didik dapat belajar sambil bekerja tidak hanya secara gratis, tetapi juga mendapatkan dukungan makan siang. Setelah makin terampil, mereka akan menerima upah yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Nguyen Hong Minh, salah satu peserta didik, mengatakan: “Saya adalah penyandang disabilitas fisik. Saya mulai belajar di bengkel jahit Bapak Khoi sejak tahun 2010. Di bengkel ini, saya dapat berbaur dengan teman-teman yang memiliki kondisi serupa. Saya merasa sangat senang karena selain memiliki pekerjaan tetap, saya juga mendapat teman baru. Saya juga membantu teman-teman baru dalam pekerjaan”.

Produk-produk di bengkel jahit tersebut cukup beragam, baik dari segi model maupun ukuran. Setiap tarikan jarum dan benang di sini tidak hanya menghasilkan bendera yang berwarna-warni, tetapi juga menenun kepercayaan dan harapan bagi mereka yang sedang berjuang bangkit dari kesulitan.

Ke depan, Bapak Khoi berharap dapat memperluas bengkel jahitnya agar bisa membantu lebih banyak lagi orang yang kurang beruntung. Baginya, membantu penyandang disabilitas tidak hanya sebatas mengajarkan keterampilan, tetapi yang jauh lebih penting adalah memberikan kesempatan bagi mereka untuk benar-benar bekerja, mandiri secara finansial, dan berbaur dengan masyarakat.