Dalam pidatonya, Sekjen sekaligus Presiden To Lam menegaskan bahwa dunia sedang memasuki fase transformasi mendalam, di mana sains, teknologi, dan inovasi kreatif tidak lagi sekadar menjadi pendorong pertumbuhan, tetapi juga menjadi faktor penentu daya saing nasional dan posisi setiap ekonomi dalam rantai nilai global. Dalam konteks tersebut, Vietnam tidak tinggal diam dan selalu memandang sains serta teknologi sebagai kekuatan utama pembangunan: “Kami sedang berupaya menyempurnakan institusi, mengembangkan sumber daya manusia berkualitas tinggi, mendorong ekosistem inovasi, serta menciptakan kondisi yang kondusif agar dunia usaha dapat berpartisipasi lebih dalam dalam proses transformasi digital dan pengembangan teknologi. Vietnam sangat menghargai perluasan kerja sama internasional di bidang sains, teknologi, inovasi kreatif, dan pengembangan sumber daya manusia. Kami meyakini bahwa di era sekarang, kemandirian teknologi tidak berarti menutup diri, tetapi harus dibangun di atas dasar kerja sama terbuka, konektivitas intelektual, dan pengembangan kapasitas teknologi bersama.”

Menyampaikan kekagumannya terhadap visi pembangunan jangka panjang, kemampuan tata kelola modern, dan ekosistem inovasi yang dinamis di Singapura, Sekjen sekaligus Presiden To Lam berharap kedua negara dapat memperluas kerja sama ke bidang-bidang dengan kandungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih tinggi, serta membangun mekanisme untuk mengubah konektivitas menjadi kerja sama nyata dan proyek-proyek konkret pada waktu mendatang.