Menghadapi pesatnya persaingan dari supermarket, minimarket, hingga e-commerce, pasar harus memperbarui cara penjualan, mengadopsi teknologi, serta meningkatkan kualitas barang, layanan, dan daya tarik bagi para pelanggan. Meski demikian, modernisasi bukan berarti menghilangkan nilai-nilai khas yang menjadi identitas pasar tradisional itu sendiri.
Di Pasar Tan Dinh, salah satu pasar tradisional legendaris di Kota Ho Chi Minh, area depannya diisi oleh kios-kios barang makanan kering yang telah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Telah lebih dari setengah abad berjualan di pasar ini, Tran Thi Xuan, salah seorang pedagang di Pasar Tan Dinh menuturkan:
“Kini pelanggan lebih memperhatikan asal-usul, kedaluwarsa dan keamanan makanan. Oleh karena itu, kami harus mengubah sumber pasokan dan memilih produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan. Transaksi jual-beli harus mampu membuat pelanggan merasa antusias untuk mempertahankan pelanggan lama".
Ketika perilaku pelanggan berubah, penjual pun perlu beradaptasi. Di samping berbagai tuntutan kualitas produk yang semakin tinggi, alasan utama yang membuat para pelanggan setia terus datang ke pasar adalah ikatan batin antara pembeli dan penjual.
Bagi para pedagang kecil, hal yang menjaga kesetiaan pelanggan tidak hanya terletak pada barang atau harganya, namun terletak pada keramahan yang dipupuk dari waktu ke waktu. Itu menjadi keunggulan tersendiri dari pasar tradisional.
Melangkah ke area penjualan kain di Pasar Ben Thanh, ikon Kota Ho Chi Minh, gulungan-gulungan kain masih tampak memenuhi kios. Selain produk pakaian jadi, para pelanggan yang datang ke sana, juga membeli kain dan langsung mencari penjahit, kemudian memilih sepatu dan aksesori tambahan untuk melengkapi busana mereka. Inilah salah satu keunggulan pasar tradisional: berbagai jenis barang hadir di satu tempat, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pembeli secara utuh.
Di Pasar Tan Dinh, hampir di setiap kios kini tersedia telepon genggam dengan kode QR. Media sosial seperti Facebook dan Zalo pun telah menjadi saluran penjualan yang tak terpisahkan bagi para pedagang. Di dalam pasar, dua metode transaksi berjalan berdampingan: pembayaran tunai secara langsung dan transaksi digital hanya dengan sekali sentuh.
Doan Thi My Chi, salah seorang pedagang di Pasar Ben Thanh, mengatakan bahwa teknologi telah membuka cara baru bagi pelanggan untuk mengakses produk mereka.
“Kini saya sudah menggunakan Facebook dan Zalo. Jika pelanggan meminta model tertentu, saya dapat langsung mengirimkan gambarnya. Namun untuk kain, pelanggan tetap ingin datang langsung untuk meraba sendiri kainnya dan melihat bagaimana kualitasnya. Sebenarnya, pelanggan tetap ingin datang ke pasar, dan hal itu tidak bisa digantikan secara online (daring)”.
Tran Nhu Quynh, Kepala Seksi Pengelolaan Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ho Chi Minh menuturkan:
“Pasar setempat memainkan peran penting dalam mendistribusi dan memasok barang. Di samping itu, pasar juga menjadi status sosial-budaya yang hadir dan berkembang bersama dengan kota. Namun, selama waktu terakhir kegiatan pasar tetap mengalami banyak kesulitan, di antaranya penyerapan kedatangan pelanggan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang mempertahankan kegiatan pasar sekaligus membantu pasar untuk beradaptasi serta berkembang secara berkesinambungan pada waktu mendatang”.
Teknologi merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan oleh pasar-pasar tradisional untuk mengubah cara pendekatan para pelanggan. Tidak hanya berhenti pada penjualan online atau livestreaming, teknologi juga dapat berperan dalam berbagai proses operasional pasar, mulai dari pengelolaan, sistem pembayaran, hingga pengbubungan penjual dengan pembeli. Ini menjadi cara bagi pasar tradisional untuk tidak sekadar menjadi tempat jual-beli, melainkan juga menjadi bagian dari ritme kehidupan perkotaan modern.








