Langkah ini menandai gelombang pengetatan kebijakan moneter pertama dari Bank Sentral AS sejak Juli tahun 2023 untuk mengekang inflasi yang berjangka panjang.
Melalui pemungutan suara secara bulat, para pejabat Fed menegaskan bahwa kenaikan suku bunga sangat diperlukan di konteks inflasi yang masih tinggi, sekaligus untuk mendukung perekonomian dalam membawa inflasi kembali ke target 2% secara lebih cepat. Dalam konferensi pers pada tanggal 16 September, Ketua Fed, Kevin Warsh, menjelaskan:
"Perkonomian bertumbuh pada tingkat yang kuat. Meskipun tingkat ketidakpastian tetap tinggi, pengeluaran domestik masih mempertahankan daya tahannya, produktivitas meningkat kuat, sementara investasi modal berada di tingkat yang tinggi. Namun, inflasi masih tetap tinggi. Keputusan kebijakan hari ini akan membantu mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Komite Pasar Bebas Federal (FOMC) akan memastikan stabilitas harga."
Setelah pengumuman Fed, pasar keuangan AS tidak mengalami gejolak yang besar karena kalangan investor telah memprakirakan skenario kenaikan suku bunga ini. Menurutnya, Indeks industri Dow Jones tercatat turun 1,21 persen, indeks komposit S&P 500 kehilangan 0,45 persen, sementara indeks teknologi Nasdaq Composite bergerak hampir mendatar. Sementara itu, harga emas dunia turun lebih dari 40 dolar AS menjadi 4.314 dolar AS per ounce setelah pengumuman tersebut. .
Segera setelah pengumuman Fed, Presiden Donald Trump kembali mendesak Fed untuk segera menurunkan suku bunga. Sebelumnya, Presiden AS berulang kali menyerukan penurunan suku bunga secara tajam, sekaligus menyatakan bahwa biaya pinjaman yang tinggi sedang menimbulkan kerugian bagi perekonomian.





