Ketika menyampaikan pidato penutupan konferensi, Sekjen sekaligus Presiden To Lam menekankan bahwa Hanoi harus memiliki pola pikir baru dan cara kerja baru; terus menyempurnakan model pemerintahan daerah dua tingkat, serta membangun pemerintahan yang lebih dekat dengan rakyat, lebih cepat, lebih transparan, dan lebih efektif. Sekjen sekaligus Presiden To Lam meminta Hanoi untuk menjadi pelopor dalam membangun model tata kelola perkotaan modern, berbasis data, dan beroperasi secara digital; kota ini harus memberikan perhatian khusus pada pembangunan aparatur tingkat dasar, serta meningkatkan efektivitas operasional dari 126 kecamatan.

“Hanoi perlu fokus menangani berbagai hambatan, menjadikan Ibukota sebagai megapolitan yang inovatif, hijau, cerdas, dan terhubung secara global. Seiring dengan pembangunan ekonomi, kota ini harus memperhatikan jaminan sosial dan menjaga kesehatan masyarakat; berinvestasi pada perumahan sosial, rumah sewa, serta kebijakan perumahan bagi mayoritas warga yang membutuhkan namun memiliki keterbatasan ekonomi.

Mengenai target pertumbuhan dua digit, Sekjen sekaligus Presiden To Lam meminta Ibukota Hanoi untuk mereformasi kelembagaan, memperbaiki iklim investasi dan bisnis, dengan cepat mengurai proyek-proyek yang tertunda, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, ekonomi digital, ekonomi data, serta memberdayakan sektor ekonomi swasta secara maksimal. Kota ini juga harus memanfaatkan berbagai mekanisme yang unggul untuk menjadi tempat uji coba kebijakan baru, kawasan perkotaan yang inovatif, kota cerdas, dan lokomotif inovasi bagi seluruh negeri.