Pada pekan lalu, Saudara Eddy Setiawan di Jakarta mengirimkan dua laporan pemantauan siaran radio tanggal 22 dan 23 Agustus dengan berkas suara. Dari Pekanbaru (Propinsi Riau), Saudara Fachri mengirimkan laporan pemantauan siaran radio dari tanggal 17 hingga tanggal 23 Agustus dalam format Excel. Kami juga menerima laporan pemantauan siaran radio yang dikirimkan Saudara Saeful Fahmi di Lombok dari tanggal 5 hingga 18 Agustus, serta dari Saudara Hari Santora di Jawa Timur pada tanggal 16 dan 20 Agustus. Selain itu, pendengar Najimuddhin dan Siddhartha Bhattacharjee di India juga rutin mengirimkan laporan mingguan kepada kami.
Secara umum, penerimaan gelombang siaran radio relatif stabil pada kedua frekuensi 12020 kHz dan 9840 kHz. Kami berharap para pendengar tetap mengirimkan laporan pemantauan siaran radio kepada kami agar kami dapat memantau kondisi gelombang di wilayah Anda masing-masing.
Para pendengar yang budiman, pada tanggal 2 September lalu, Vietnam dengan khidmat menyelenggarakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Hari Nasional (2/9/1945-2/9/2026). Sehubungan dengan momen bersejarah ini, para pendengar seperti Saudara Eddy Setiawan, Dwi Budhi Rahardjo, Min Lin, Thedja Haryanto, Najimuddin, serta beberapa pendengar lainnya menyampaikan ucapan selamat yang penuh dengan makna melalui fanpage dan email kami:
“Selamat Hari Ulang Tahun ke 81 Republik Sosialis Vietnam. Semoga semakin maju dan berkembang bagi seluruh rakyat Vietnam”, “Dirgahayu Vietnam. Selamat hari ulang tahun Republik Sosialis Vietnam yang ke 81. Semoga semangat kemerdekaan 02 September 1945 terus menginspirasi”, “Salam persahabatan dari Indonesia untuk Vietnam. Semoga Republik Sosialis Vietnam semakin kuat, makmur dan sejahtera”, serta “Semoga Vietnam semakin maju, berjaya dan makmur”…..
Selain itu, artikel-artikel yang memperkenalkan negeri, manusia dan budaya Vietnam terus mendapat banyak perhatian serta dibagikan oleh para pendengar. Saat mengomentari artikel bertajuk: “Peraturan Desa di Era Modern: Melestarikan Identitas Budaya Tradisional Desa di Ruang Baru”, Saudara Idris dan Subyarno Triyanto menulis: “Menurut saya ini menarik, sudah barang tentu setiap desa punya aturan dan tata cara sendiri untuk mengatur tradisi masyarakatnya, agar terjaga kelestarian budaya,tradisi dan adat istiadat, disamping harus menaati peraturan yang ditetapkan pemerintah. Dari tingkat pusat maupun daerah, peraturan desa dan masyarakat yang ada di Vietnam sama seperti yang ada di Indonesia”, serta “Sangat bagus melestarikan Identitas Budaya Tradisional Desa”.
Pada pekan lalu, Saudara Muhammad Aqeel dari Pakistan mengirimkan satu pertanyaan yang sangat menarik setelah membaca artikel berjudul: “Desa Nelayan Ngu My Thanh – Destinasi yang Tidak Boleh Dilewatkan di Laguna Tam Giang”: “Artikel tersebut telah memberikan gambaran yang indah kepada saya tentang kehidupan sederhana, keindahan alam serta tradisi kerajinan penangkapan ikan yang ada sejak lama di Desa Ngu My Thanh. Bagaimana komunitas daerah setempat mempertahankan kerajinan tradisional tersebut, sekaligus tetap menyambut wisatawan yang datang ke Ngu My Thanh?”.
Saudara Muhammad Aqeel Bashir yang budiman, di Desa Ngu My Thanh, salah satu fokus utama saat ini adalah mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang mengangkat nilai-nilai lokal desa tersebut. Alih-alih membuat produk pariwisata baru, pemerintah setempat mendorong masyarakat untuk memperkenalkan pekerjaan yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari mereka, seperti menebar jala, menangkap ikan dan udang, serta mendayung perahu di Laguna Tam Giang."
Satu hal yang patut diperhatikan, masyarakat setempat terlibat langsung dalam mengelola kegiatan pariwisata. Para nelayan dapat berperan sebagai pendayung sekaligus pemandu wisata untuk mengajak wisatawan merasakan langsung pengalaman menangkap ikan, atau memasak hidangan khas dari hasil alam Laguna Tam Giang.
Di samping melestarikan kerajinan, perlindungan lingkungan juga menjadi faktor yang sangat penting. Hutan bakau di Ngu My Thanh tidak hanya memperindah pemandangan alam untuk pariwisata, tetapi juga menjadi tempat berkembang biak bagi berbagai biota perikanan. Oleh karena itu, pemerintah setempat terus melaksanakan penanaman hutan bakau guna melindungi ekosistem, memulihkan sumber daya perikanan serta menciptakan fondasi bagi mata pencaharian jangka panjang bagi masyarakat setempat.
Kegiatan pariwsata di Ngu My Thanh telah dan sedang dikembangkan berdasarkan kehidupan nyata masyarakat setempat. Dengan demikian, warga dapat meningkatkan pendapatan sekaligus bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan, melestarikan kerajinan serta nilai-nilai budaya di kampung halaman mereka.
Kami berharap dalam waktu yang tidak jauh lagi, Saudara Muhammad Aqeel Bashir, berkesempatan untuk berkunjung ke Vietnam, datang ke Laguna Tam Giang, dan merasakan secara langsung kehidupan masyarakat di desa nelayan Ngu My Thanh.
Para pendengar, sampai di sini, berakhirlah acara “Kotak Surat Anda” pekan ini. Untuk mendengarkan dan membaca kembali program siaran kami, silakan mengakses situs web vovworld.vn atau mengirim email ke Indonesia.vov5@gmail.com. Anda juga dapat mengirimkan surat ke alamat pos kami: Jalan Ba Trieu, Nomor 45, Kecamatan Cua Nam, Kota Hanoi, Vietnam.








