-"Saya sudah mengenal Paman Ho (Presiden Ho Chi Minh) sejak masih di SD. Saya pernah mengunjungi Vietnam dan berziarah ke Mausoleum Presiden Ho Chi Minh saat kelas dua atau tiga. Hingga kini saya masih ingat perasaan terharu saat berdiri di depan jenazah Beliau."
-“Saya mengenal Paman Ho dari buku-buku sejarah di sekolah serta melalui cerita kakek-nenek saya. Foto Beliau juga dipajang dengan penuh hormat di dinding utama rumah saya.”
Demikian kata-kata tulus dari para mahasiswa Laos yaitu Viengdala Thepvongsa dan Phaknakhonexay Xayyavong yang sedang menempuh pendidikan di Akademi Diplomatik Vietnam, ketika ditanya tentang Presiden Ho Chi Minh. Bagi para siswa Laos yang sedang menempuh kuliah di Vietnam, hal yang mereka kagumi dari Presiden Ho Chi Minh bukan sekadar sosok pemimpin besar, tetapi juga semangat belajar mandirinya. Khamping Syduongchan mengatakan bahwa teladan Beliau dalam belajar bahasa asing menjadi pendorong bagi dirinya untuk menaklukkan dan menguasai empat bahasa asing dengan fasih, yaitu bahasa Mandarin, Inggris, Vietnam, dan Thai.
“Kisah Paman Ho yang belajar bahasa Prancis secara mandiri di kapal dan dalam perjalanan mencari jalan untuk menyelamatkan tanah air, serta kemampuannya menguasai berbagai bahasa asing lainnya, selalu terukir dalam ingatan saya. Citra itu menjadi pendorong kuat bagi saya untuk belajar bermacam jenis bahasa secara mandiri. Terlebih lagi di era integrasi seperti sekarang, saya melihat bahwa kemampuan belajar secara mandiri dan menguasai banyak bahasa asing sangat penting dan bermanfaat.”
Para mahasiswa Laos tidak terlalu terkejut ketika membaca berita bahwa hanya dalam waktu satu pagi pada tanggal 30 April — Hari Pembebasan Vietnam Selatan dan Penyatuan Tanah Air, terdapat lebih dari 20.000 warga Vietnam dan wisatawan internasional yang berizarah ke Mausoleum Presiden Ho Chi Minh. Phonekham Sysomphan dan Viengdala Thepvongxa berbagi pendapat:
-“Setiap kali berziarah ke Mausoleum Presiden Ho Chi Minh, saya selalu merasa terharu. Saya beserta para teman lainnya tidak dapat menahan air mata ketika menonton film dokumenter tentang kehidupan dan usaha besar Beliau. Setiap momen seperti itu selalu menginspirasi kami untuk berusaha belajar lebih giat lagi guna berkontribusi pada pembangunan dan pengembangan negara.”
-“Ketika berdiri di depan jenazah Paman Ho, dalam benak saya yang saat itu masih berusia sekitar 7–8 tahun muncul pikiran: Andai saja Paman Ho masih hidup agar saya bisa bertemu langsung dengan Beliau. Sekarang saya melihat bahwa meskipun Beliau sudah wafat, tetapi ajaran dan nilai-nilai yang Beliau tinggalkan selalu hidup dalam diri saya dan anak-anak muda lainnya.”
Dalam setiap kegiatan pertukaran pemuda antara kedua negara, lagu “Như có Bác Hồ trong ngày vui đại thắng” (atau Seperti ada Paman Ho dalam hari kemenangan besar”) selalu dinyanyikan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan generasi muda Laos terhadap Presiden Ho Chi Minh tidak hanya berasal dari kekaguman terhadap seorang pemimpin besar bangsa Vietnam, tetapi juga dipupuk dari hubungan persahabatan Vietnam–Laos yang setia dan erat dari generasi ke generasi. Kisah-kisah sederhana tentang Paman Ho, semangat belajar mandiri, gaya hidup rendah hati, serta aspirasi Beliau untuk berdedikasi terus menginspirasi banyak pemuda Laos dalam perjalanan belajar, menggembleng diri, dan berintegrasi dengan dunia internasional./.








