Di dalam ruang yang sakral, Seniman Unggulan Hoang Thi Vien bertindak sebagai Guru Then utama (atau disebut juga Ibu Then) yang memimpin jalannya ritual. Sambil menggenggam giring-giring di tangannya, ia melantunkan nyanyian Then yang syahdu, seolah membuka gerbang bagi leluhur, dewa bumi, dan roh suci untuk hadir menjadi saksi. Saat suara genta bergema, saat itulah ritual “Lẩu son tràng” resmi dimulai, menandai titik balik penting bagi sang murid (yang disebut sebagai “con tràng”).
"Sebagai guru, kami juga harus memilih “con tràng” yang memiliki takdir dan garis nasib yang selaras agar bisa kami ajarkan. Pada saat itu, “con tràng” akan melangsungkan ritual “Lẩu son tràng”, mengundang guru ke rumahnya untuk melaksanakannya, atau bisa juga “con tràng” yang datang ke rumah sang guru. Persiapan ritual “Lẩu son tràng” bisa memakan waktu hingga satu minggu agar benar-benar sempurna. Pada hari dan bulan yang baik, barulah Guru Then diundang untuk memimpin ritual “son tràng”.”
Bagian terpenting dalam ritual “Lẩu son tràng” adalah pemberangkatan pasukan (secara spiritual). Guru Then memimpin rombongan ritual yang terdiri dari para praktisi Then, bernyanyi sambil menuntun murid baru melewati berbagai istana dan gerbang penjagaan gaib, demi mempelajari tata krama dan tata cara persembahan. Ini menandai tahap pertama dalam mempelajari jalan spiritual Then. Setibanya di tepi pantai, Guru Then terus membimbing rombongan menyeberangi sungai untuk membawa sesajian ke dermaga yang baru. Di sini, untaian lirik dan melodi Then yang gemulai menjelma menjadi irama dayung yang mengantarkan rombongan melintasi ombak dan air. Pada etape ini, “con tràng” (murid) tidak hanha belajar melaksanakan ritual tetapi juga melatih keteguhan mental dalam membina diri. Rombongan kemudian terus maju melewati gerbang bulan dan bintang, panas dan angin, serta sembilan lapis awan. Setiap rute melambangkan sebuah ujian sekaligus langkah maju bagi sang murid dalam mendalami ilmu spiritualnya.
Di bawah kesaksian para dewa, hubungan guru dan murid dikukuhkan melalui ikatan yang erat yang memadukan dedikasi spiritual dan pengabdian profesi. Sejak momen sakral ini, melalui petuah dan ajaran sang Guru Then, sang murid memulai perjalanannya untuk menyerap nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Dalam bagian ritual ini, Guru Then juga mewariskan perlengkapan praktik kepada sang murid, seperti: alat musik petik sitar Tính, giring-giring, kipas, topi, dan jubah. Di antaranya, sitar Tính memegang peranan khusus sebagai sarana bagi murid untuk melantunkan nyanyian Then yang menghubungkannya dengan alam gaib. Perlengkapan tersebut membawa pesan sekaligus kepercayaan dari pendahulu kepada generasi penerus, demi memastikan api tradisi Then tetap abadi sepanjang masa.
Dalam ritual “Lẩu son tràng”, biasanya terdapat satu Ibu Then utama yang menerima murid, dibantu oleh satu atau dua Ibu Then lainnya dalam pelaksanaan ritual. Untuk upacara berskala besar, terkadang dibutuhkan hingga lima Ibu Then. Selain itu, pemimpin spiritual juga memegang peranan penting. Pemimpin spiritual Tran Van Hoan menjelaskan:
"Harus ada seorang pemimpin spiritual yang bertugas menjaga rumah. Kami merapal mantra penjaga rumah untuk mencegah roh jahat dari luar masuk, sehingga para Ibu Then dapat memimpin ritual dengan tenang. Tugas kami adalah menuntun “con tràng” berkeliling dunia, naik ke surga, turun ke laut untuk menghadap para dewa, Raja Naga di perairan, dan Kaisar Giok di kahyangan… Setelah menempuh seluruh rute secara berurutan, barulah kami menyatakan bahwa hari ini kami membawa murid baru untuk dipersembahkan kepada para dewa, agar mereka tahu bahwa kami telah menerima seorang murid baru untuk dididik menjadi generasi penerus."
Ritual “Lẩu son tràng” ditutup dengan tarian memegang batang tebu yang menjulang tinggi, sebuah simbol atas kedewasaan dan kebangkitan spiritual sang murid. Berakhirnya upacara ini sekaligus membuka lembaran baru dalam perjalanan panjang untuk menjadi seorang Guru Then yang mumpuni. Masih banyak rintangan yang menanti di depan, petuah sang guru dalam ritual ini akan menjadi bekal yang menguatkan “con tràng” atau murid dalam melanjutkan semangatnya. Dengan demikian, gema nyanyian Then akan terus berkumandang, menegaskan daya hidup yang tangguh serta nilai budaya yang unik dari masyarakat etnis Tay./.








