Pekan Waisak tahun ini berlangsung dari tanggal 8–15 bulan keempat tahun Kuda (yakni 24 – 31 Mei 2026). Pesan utama yang diangkat adalah membangkitkan semangat hidup yang penuh kebaikan, serta mengarahkan manusia menuju kesadaran diri, kasih sayang, dan kepedulian sosial. Perayaan Waisak 2026 mengajak umat Buddha dan masyarakat untuk tetap teguh pada nilai-nilai moral tradisional. Selain itu, perayaan ini juga mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap pemikiran ekstrem yang dapat memecah-belah persatuan seluruh bangsa serta mengikis identitas budaya Vietnam.

Salah satu poin penting lainnya dari perayaan Waisak tahun ini adalah semangat kebersamaan umat Budha Vietnam dengan seluruh elemen bangsa melalui berbagai kegiatan penyebaran ajaran Buddha, aksi kemanusiaan, serta perhatian terhadap kehidupan masyarakat di daerah terpencil, pedalaman, dan komunitas etnis minoritas.

Pada Perayaan Waisak yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Sangha Buddha Vietnam Kota Ho Chi Minh pada tanggal 24 Mei di Pagoda “Vietnam Quoc Tu”, berbagai pesan mengenai persatuan seluruh bangsa serta kebersamaan antara ajaran agama dan kehidupan sosial kembali ditekankan. Nguyen Manh Cuong, Wakil Ketua Komite Rakyat Kota Ho Chi Minh mengatakan:

Kami senantiasa menetapkan bahwa pembangunan dan penguatan persatuan seluruh bangsa, di mana keterikatan dan hubungan erat dengan organisasi-organisasi keagamaan pada umumnya dan Sangha Buddha Vietnam pada khususnya, merupakan faktor penting untuk menjaga stabilitas, pembangunan berkelanjutan, serta meningkatkan kualitas kehidupan material dan spiritual masyarakat. Kota ini akan terus mendampingi dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi kegiatan-kegiatan keagamaan, membangun lingkungan kehidupan keyakinan yang beradab dan sehat, sehingga turut memperkuat kepercayaan masyarakat serta mengembangkan semangat “keselarasan antara kehidupan duniawi yang baik dan kehidupan beragama yang mulia”.

Di Kota Hue, ribuan biksu-biksuni, umat Buddha, dan masyarakat turut berpartisipasi dalam prosesi pawai patung Buddha, upacara penyalaan tujuh lampion bunga teratai di Sungai Huong, serta doa bersama untuk kesejahteraan bangsa dan perdamaian dunia. Bersamaan dengan itu, berbagai program amal diselenggarakan secara serentak di banyak, kecamatan, kotamadya, dan vihara, guna membantu kelompok masyarakat yang rentan dalam mengatasi kesulitan hidup. Upadhaya Thich Khe Chon, Ketua Badan Pengurus Sangha Buddha Vietnam Kota Hue mengatakan: “Prosesi Buddha merupakan sebuah ritual tradisional yang sudah ada sejak tahun 1936. Sejak saat itu hingga sekarang, dalam melanjutkan tradisi mulia tersebut, para biksu-biksuni dan umat Buddha di Kota Hue berkumpul setiap tahun untuk menyelenggarakan Upacara pemandian patung Buddha secara khidmat. Mereka juga menggelar prosesi penyambutan Patung suci Buddha berlapis emas dari Pagoda Dieu De menuju panggung upacara di Pagoda Tu Dam, seraya memanjatkan doa dan harapan agar negara damai dan makmur, dunia damai, ajaran Buddha tetap lestari selamanya, dan seluruh makhluk hidup memperoleh kebahagiaan”.

Turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dalam Perayaan Waisak, Le Thi My Nhon, seorang umat Buddha di Kota Hue, menyampaikan: “Kami sebagai umat Buddha sangat gembira dan penuh sukacita menyambut hari kelahiran Sang Buddha. Semua orang bersama-sama menghias panggung upacara, membaca kitab suci Buddha dan berdoa dengan menyebut nama Buddha untuk memohon kedamaian.

Semangat “Ajaran Buddha seiring sejalan dengan bangsa” juga terus disebarluaskan secara kuat di daerah dataran tinggi Tay Nguyen (Vietnam Tengah) serta daerah permukiman masyarakat etnis minoritas. Dalam kurun waktu 9 hari (dari 23 hingga 31 Mei), di kawasan pusat Da Lat, Gia Nghia dan Phan Thiet (Provinsi Lam Dong), berlangsung berbagai kegiatan yang mencerminkan identitas budaya Buddha… Upadhaya Thich Van Tri, Ketua Badan Pengurus Sangha Buddha, Ketua Badan Budaya Sangha Buddha Vietnam Provinsi Lam Dong mengatakan: “Hari perayaan ini sangat penting bagi umat Buddha, sehingga semua orang dengan penuh sukacita ikut berkontribusi dan mempersiapkannya. Kami juga menganggap upacara ini sebagai sebuah “ceramah tanpa kata” yang bersifat visual dan hidup, agar orang-orang dapat melihatnya, kemudian mempelajari dan mendalami ajaran Buddha”.

Melalui Perayaan Waisak, Sangha Buddha Vietnam berharap agar setiap umat Buddha terus menyebarkan cahaya semangat cinta kasih dan saling berbagi, serta turut berkontribusi dalam membangun komunitas yang stabil, rakyat yang damai, dan negara yang tenteram serta berkembang secara berkelanjutan. Oleh karena itu, musim Perayaan Waisak tahun 2026 tidak hanya menjadi hari raya keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat persatuan seluruh bangsa, menjaga identitas budaya Vietnam, serta membangkitkan tanggung jawab setiap individu terhadap keluarga, masyarakat, dan tanah air.